Mantu

Pada umumnya orang jawa yang mempunyai hajat “ mantu “ (mengawainkan anaknya), dibagian muka rumahnya di pasang “ tarub “: yaitu tertata dihias dengan janur kuning, daun kelapa muda yang berwarna kuning. Meskipun “ Mantu “ tidak dirumahnya sendiri misalnya di gedung pertemuan dsb, hiasan ini pun dilaksanakan pula.

Dimuka pintu masuk sebelah kanan dan kiri didirikan pohon pisang suluhan ( sebagaian buahnya sudah masak ) atau pisang tuwuhan ( lengkap dengan akar, batang, daun dan buahnya ) Disamping pohon-pohon pisang tersebut, dilengkapi hiasan lain-lainnya, ialah :

Dahan kapas dengan bunga dan buahnya
Padi seuntai
Dahan beringin dengan daunnya
Cengkir gading ( kelapa gading muda )

Tebu wulung ( hitam )
Daun apa-apa
Pisang raja talun masak di pohon ( suluh )

Pada waktu pengantin dipertemukan satu dengan lainnya, diadakan upacara :
-Uncal-uncalan gantal (lempar-lemparan secarik sirih);
-Wisuhan (membersihkan kaki pengantin lelaki dengan air oleh pengantin perempuan);
-Menginjak telor (oleh pengantin lelaki);
-Kacar-kucur (pengantin lelaki menumpahkan kantong berisi beras, kacang, kedelai, dan sebagainya diterima oleh pengantin perempuan);
-Ditimbang (oleh ayah pengantin putri diatas pangkuannya);
-Suap-menyuap nasi

Tatacara tersebut mengandung maksud yang diwujudkan dengan lambang-lambang diatas yang masing-masing mempunyai arti sebagai berikut :
Dahan kapas dengan daun dan buahnya melambangkan : sandang (1.busana, kawi). Maksudnya : didalam hidup suami istri dan keliarga wajib berusaha mencukupi sandang (pakaian)
Padi seuntai melambangkan pangan (2.beksana, kawi) maksudnya orang bersuami istri juga wajib berusaha mencukupi pangannya.
Dhan beringin dengan daunnya melambangkan papan (3.sasono, kawi) tempat yang teduh, nyaman, menyenangka, ayem tentrem. Maksudnya orang bersuami istri wajib mengusahakan papan, tempat untuk tinggal
Keterangan :

Lambang angka 1, 2 dan 3 tersebut diatas dapat dimaknakan, bahwa pengantin berdua kemudian harus sanggup menyelenggarakan rumah tangga yang kokoh dengan memenuhi syarat mutlak ialah menciptakan Trisana yakni :1. Busana; 2. Baksana; 3. Sasana.

-Kelapa muda kuning (cengkir gading) itu dimaksud sebagai ringkasan yang lengkapnya berbunyi : Kencengging pikir (kemauan teguh) kepada keelokan dan keindahan seperti keindahan cengkir kelapa gading.

-Tebu wulung juga dimaksudkan sebagai ringkasan yang lengkapnya berbunyi : antebing kalbu (kesungguhan hati) hatinya murni, bulat satu tujuan, hitam satu warna, tidak terpecik pikiran yang lain.

-Daun apa-apa bermaksud sebagai puji doa, mudah-mudahan hajat mantu ini selamat tidak ada apa-apa , tiada suatu halangan apapun.

Pisang tuwuhan berupa pisang raja talun masak dipohon, jelasnya demikian: ada bermacam-macam pisang: kluthuk, pulut, mas, becici, raja. Yang paling baik adalah pisang raja. Pisang Raja pun bermacam-macam: raja kusta, raja sewu nagri, raja talun. Yang paling baik adalah raja talun, pisang raja talun pun bermacam-macam : pisang raja talun mentah, masak karena diimbu (disimpan untuk memasakkan), disemprong (agar supaya lekas tampak warna kuning sebagai tanda sudah masak), korepen (rusak), yang palin baik adalah raja talun yang masak dipohon (suluh).

Adapun maksudnya adalah sebagai lambang, bahwa maksud dari bersuami istri yang hakiki, yang murni dan luhur ialah : agar supaya “Ngudi ambabar tuwuh” (berusaha agar dapat melahirkan benih) yang utama, terpilih dan terpuji, yaitu yang sangat baik seperti baik dan terpilihnya pisang raja talun yang utuh dan masak dipohon. Pada hakekatnya “melahirkan benih utama” itu suatu hal yang amat sukar sekali, terutama mengingat bahwa soal itu, soal benih atau biji ditangan Ilahita’ala. Sukar sekali mencapai maksud itu, namun dapat diusahakan dengan syarat-syarat usaha sebagai berikut:

Harus teguh kemauannya (ingat: cengkir gading)
Harus berkesungguhan hati (ingat: tebu wulung)
Harus tekun memohon kemurahan Ilahi ta’ala yang maha kuasa, dan yang mengatur dunia, yang maha murah dan asih kepada segenap umatNya.
Harus percaya bahwa Ilahi ta’ala selalu memenuhi permohonan hambaNya seimbang dan sesuai dengan ikhtiar dan tekadnya.
Harus sabar, tidak bosan-bosan memohon kepada Ilahi ta’ala tiada henti-hentinya, setiap malam sehingga permohonan itu dikabulkan oleh Ilahi ta’ala, denga sesuatu pertanda/firasat.
Keterangan

Pertanda yang diberikan oleh Allah kepada manusia kadang-kadang berupa : Suara, bagi orang yang tajam pendengaran batinnya. Suara ini bukanlah suara yang dapat ditangkap oleh telinga manusia. Aksara, tulisan, gambaran atau ujud bagi orang yang tajam penglihatan batinnya. Aksara dan sebagainya seperti itu tidak dapat terlihat oleh mata kepala.Timbulnya rasa keyakinan atau firasat bagi orang yang tajam perasaan kalbunya

Pertanyaan : melahirkan benih (ambabar tuwuh) yang utama itu benih yang bagaimanakah ?

Jawab : Tuo, benih atau turun yang utama berupa anak perempuan atau laki-laki yang dapat memenuhi “tridarma bakti” didunia, yaitu 3 macam kewajiban sebagai berikut:

Manusia diciptakan didunia ini sebagai mahluk moral, artinya memiliki kesusilaan. Manusia susila wajib berbakti kepada Allah dengan : beriman atau tauhit kepada ALLAH.yang berarti mejalankan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya.selantnya berserah diri pada Nya secara total.

Manusia dititahkan sebagai mahluk individual, perorangan, diwajibkan berusaha sekuat tenaga, budi dan daya, sehingga dapat memenuhi hukum hidup bahagia dengan 4 dasar, yaitu:

wirya, yaitu kedudukan, jabatan, pangkat yang pantas;
harta, yaitu uang, hartabenda, ekonomi yang cukup yang diperoleh dengan halal
guna, yaitu kepandaian, ketrampilan yang cukup
susila, yaitu baik budi pekerti, baik akhlaknya dan sopan santun
Manusia dititahkan didunia sebagai mahluk sosial, artinya: menyadari bahwa ia hidup bersama dengan banyak orang. Manusia sosial wajib bergotong-royong, tolong menolong, rukun, berbuat baik kepada sesama manusia demi keselamatan bersama.

ARTI BERBAGAI UPACARA DALAM BERTEMUNYA PENGANTIN

Berbagai upacara pada waktu bertemunya Pengantin perempuan dan lelaki seperti tersebut diatas mempunyai arti sebagai berikut :

Uncal-uncalan gantal (lempar-lemparan batu) Yang disebut gantal adalah selembar daun sirih yang diikat dengan benang atau lainnya. Sirih mempunyai peran penting dijaman lampau, orang mengundang tetangga dan kaum kerabatnya dengan mengirimkan sirih yang dilengkapi dengan kapur, gambir tembakau. sIrih itu sebagai alat penghubung mengundang orang ke rumahnya Seorang jejaka yang menaruh hati pada seorang gadisdan ingin bertanya apakah gadis itu bersedia untuk diperistri, maka jejaka itu mengirimkan daun sirih yang sudah dijadikan gantal kepada si gadis. Persetujuan gadis disampaikan dengan mengirimkan gantal pula kepada sang jejaka. Dengan lambang itu berarti lamaran diterima baik. Maka sebenarnya uncal-uncalan gantal dapat diartikan sebagai berkirim-kiriman surat.Dalam hal uncal-uncalan gantal pada waktu pengantin bertemu, yang melempar gantal lebih dahulu adalah pengantin lelaki, sebab yang melamar adalah pengantin pria.

Makna lambang Wisuhan

Menurut tradisi kuna waktu pengantin laki-laki datang, pengantin wanita harus menjemputnya diambang pintu, dibarengi dengan perbuatan tanda hormat dan bakti ialah : ia bersembah, lalu berjongkok untuk membasuh kaki sang suami dengan air bunga setanam. Upacara ini sekarang diganti dengan saling berjabat tangan sebagai tanda saling mencintai dan menghormati.

Pengantin lelaki menginjak telor sampai pecah

Maksudnya, bahwa pengantin lelaki harus dengan tepat dapat memecahkan telor pengantin puteri sehingga berhasil menurunkan benih, mendapatkan keturunan yang baik.

Kacar-kucur

Pengantin lelaki menumpahkan kantong berisi beras, kedele, kacang, uang, dan sebaginya diterima oleh pengantin perempuan dengan tikar kecil sederhana diatas pangkuannya yang disangga dengan dua belah tangannya sesudah menjadi kosong, oleh pengantin lelaki kantong dikebutkan sebagai bukti bahwa semuanya sudah ditumpahkan kepada pengantin perempuan maksudnya : sang suami berkewajiban memberikan penghasilan, rezeki berupa apa saja kepada sang istri, sang istri dalam menerima rezeki dari suaminya diharapkan hidup cermat dan berhemat.

Pengantin perempuan dan lelaki duduk diatas pangkuan ayah pengantin perempuan seolah-olah sang ayah menimbangnya

Sang ibu pengantin perempuan bertanya : “berat manakah Pak ?:”

Jawabnya “sama-sama beratnya sudah seimbang”.

Maksudnya : calon pengantin hendaklah masing-masing menjaga keseimbangan dalam mengarungi kehidupannya kelak.

Saling menyuapi

Pengantin perempuan menyuapi sang lelaki demikian sebaliknya, maksudnya bersuami istri hendaknya rukun, akrab lahir batin saling menerima apa adanya, untuk itu dalam bahasa Jawa bojo (istri) diganti menjadi Jodo (jodoh), mencari istri (bojo) lebih gampang ketimbang mencari jodo (jodoh)

Dalam falsafah Jawa :

Kewajiban suami Kewajiban istri
Hangayani (memberi rejeki) Gemi-nastiti (hemat cermat)
Hangomahi ( memberi rumah) Ngati-ati (hati-hati)
Hangayemi (membikin tenteram, ayem) Reti-surti (siap-teliti)
Hangayomi (melindungi) Ngrukti (memelihara)
Hangatmajani (memberi keturunan jiwa mulia) Setya-bekti (setia berbakti)
1. Sesaji Bucalan
  “ Rasulan Jangkep “ (rasulan lengkap) “ Asahan Jangkep “ (asahan lengkap)    “ Tumpengan Sega Janganan“ (nasi urapan) Jajan Pasar(D), Kembang Setaman (E), Tumpeng Robyong (F)  “Golong Jangkep“ (Nasi golong lengkap) “Pisang Sanggan“ “Bucalan gecok mentah“
Nasi gurih dengan lauknya yaitu ingkung ayam jantan

 

Lalapan

 

Rambak (krecek/krupuk kulit)

 

Kedelai hitam

 

Pisang raja dua sisir yang sudah ranum dan masih utuh

 

Kembang boreh

 

Kemenyan dan madu

Nasi putih dengan lauknya bermacam-macam

 

Ketan kolak dan apem

Nasi Urap Nasi dengan lauk pecel ayam

 

Sayur menir (bahasa Jawa : pecel, pitik, jangan menir)

Pisang raja dua sisir yang sudah ranum ( hampir matang)

 

Gula kelapa dua sisir (satu tangkep)

 

Kelapa utuh satu biji

 

Beras

 

Kinang Jangkep

 

Kembang wangi yaitu bunga melati, mawar, kenanga atau kanthil

“Pala pendem”, yaitu buah yang tumbuhnya di dalam tanah seperti singkong, ubi rambat, kacang tanah dan lain-lain

 

“Pala kesampar“, yaitu buah yang tumbuhnya melekat diatas tanah, misalnya ketimun, semangka dan lain-lain

 

“Pala Gemantung “, yaitu buah yang tumbuhnya melekat pada pohon sebelah atas , misalnya pepaya, mangga, rambutan dan lain-lain

 

Kacang-kacangan 5 macam : Kacang merah, kacang putih, kacang hijau, kacang tanah, dan jagung

 

“ Gereh petek “ (ikan asin)

 

“ Kluwak “ dan kemiri

 

Tumpeng 5 macam ; Tumpeng merah, tumpeng hitam, tumpeng kuning, tumpeng putih dan tumpeng hijau

 

“ Jenang merah, jenang putih, jenang katul, (sengkolo) “

 

Telur ayam mentah satu biji

 

“ Empon-empon sak pepake “ (rempah-rempah lengkap) : misalnya dlingo, bangle, lempuyang, kencur dan lain-lain

 

Kembang boreh, kemenyan madu

 

“ Gecok mentah “, terdiri dari bumbu dapur, daging mentah dan kelapa irisan

 

Rokok, sirih diikat (gantal sirih), uang logam (lima puluh rupaih, seratus rupiah)

Catatan :

 

Selamatan ini khusus ditujukan kepada para Rasul Allah dan Nabi

Catatan :

 

Selamatan ini khusus ditujukan kepada leluhur dari kedua calon pengantin yang telah mendiang.

Catatan :

 

Selamatan yang tersebut pada C, D, E dan F dari atas khusus ditujukan kepada Saudara yang mendampingi kedua calon pengantin pada waktu lahir.

 

(Jawa : Kakang kawah, adi ari-ari : “meruhi sedulur sing lair barang sedino”)

 

bahasa Indonesia, memberitahukan kepada Saudara yang lahir bersamaan harinya.

Catatan :

 

Selamatan ini ditujukan kepada cikal bakal yang menjaga bumi, sebagai

 

tanda pemberitahuan bahwa kita akan mencangkul di beberapa tempat

 

untuk memasang tarub.

Catatan :

 

Pisang ini melambangkan kegotongroyongan dari semua sanak saudara,

 

handai taulan sehingga akan mempermudah dan memperlancar jalannya

 

upacara adat

Catatan :  Selesai upacara selamatan pokok, dilakukan bucalan di sepanjang jalan yang akan dilalui pengantin
2. Pasang Tarub dan Tuwuhan

Hari, tanggal pelaksanaan pasang tarub telah ditentukan :

  Selamatan pasang tarub :
a)     “ Rasulan Jangkep “ (rasulan lengkap)
b)     “ Asahan Jangkep “ (asahan lengkap)
c)      “ Tumpeng Sego Janganan “ (tumpeng nasi urapan)
d)     “ Jajan Pasar “
e)     “ Kembang Setaman “ (bunga setaman)
f)       “ Tumpeng Robyong “
g)     “ Golong Jangkep Lawuhan “ (nasi golong lengkap)
h)     “ Pisang Sanggan

 

  • Selesai upacara selamatan pasang tarub, dilanjutkan dengan menaikkan bleketepe* oleh petugas yang di tunjuk sebagai tanda simbolik bahwa di tempat itu akan diselenggarakan hajat ngunduh temanten
  • Pasang tuwuhan di tempat yang telah ditentukan
  • Tuwuhan terdiri dari :
a)     Tandan pisang raja yang hampir matang berikut pohonnya h)     Buah Maja
b)     Tangkai buah kelapa gading i)       Daun Dadap Serep
c)      “ Tebu wulung “ (tebu ungu) j)       Padi
d)     Daun Timbul (kluwih) k)     Daun Beringin
e)     Daun Alang-alang l)       Daun Koro
f)       Daun Kemuning m)  Daun Apa-apa
g)     Daun girang n)     Anyaman Daun Kelapa
3. Siraman

Penyiapan “ Sajen “ dan syarat “ Kosokan “ siraman di rumah pengantin putra

Sesaji (sajen) siraman Alas Siraman   “Kosokan“ (sarana untuk menggosok badan)
“ Tumpeng sego janganan “ (nasi tumpeng urapan)

“ Jajan pasar “

“ Nasi tumpeng robyong “

Ayam hidup

“ Cengkir gading “ 2 buah, dimasukkan ke dalam kembang setaman yang akan dipakai mandi (siram) pengantin. Dimasukkan juga uang 5 sen.

“Klasa bangka“ baru

Daun Apa-apa

Daun Koro

Daun Timbul (kluwuh)

Daun Dadap Serep

Daun Alang-alang

Kain Letrek

Kain Sindur

Kain Yuyu Sekandang

Kain Lurik Puluh Watu

Kain Mori (lawon)

Sembagi

Tepung Beras 7 warna

Mangir

Daun Kemuning

Air Satu Klenthing*

“ Ratus “ dengan anglonya

 

– Siraman pengantin putra di rumah pengantin putra sendiri

– Siraman pengantin putri di rumah keluarga calon pengantin putra yang terdekat

4. Majemukan

Tempat pelaksanaan : Jam 19:00

– Penyajian rasulan tersebut di :

a) Dekat kamar pengantin

b) Dekat kamar pengantin

– Pengantin, besan dan pengiring berjalan pelan-pelan menuju ke pintu masuk tempat upacara, dimana Bapak dan Ibu pengantin putra bersama saudara-saudara pengantin yang bertugas membawa sindur.

Catatan : Iringan gending ; Monggang / Bende Lori

– Kurng lebih tiga langkah dari Bapak dan Ibu pengantin putra, iring iringan pengantin berhenti disusul imbal wacana / dialog oleh bapak pengantin putri menyerahkan pengantin sejoli kepada bapak pengantin putra.

– Bapak pengantin putra menerima penyerahan pengantin sejoli dan dilanjutkan dengan tata cara mangayu-hayu kedatangan kedua pengantin Hati ayam yang ada di dalam ingkung (ati pengasih) diambil dan dipersilakan makan calon pengantin pria dan calon pengantin putri. Adapun rasulan selebihnya dimakan bersama oleh pinisepuh yang wungon (tirakatan)

– Selesai upacara ngunduh pengantin, sesampainya kedua pengantin di rumah pengantin putra, ati pengasih dipersilakan makan oleh kedua pengantin

5. Paes

– Penyiapan sarana paes pengantin putri di rumah pengantin putra.

“ Sajen paes “ terdiri dari :

a) Pisang Sanggan

b) Tumpeng putih

c) Ayam panggang

d) Jajan pasar

e) Klasa bangka untuk tempat duduk pengantin

ACARA POKOK

(Jadwal waktu ini diatur sedemikian rupa agar dapat berjalan lancar sebagai contoh waktu sbb)

 

1. Penjemputan pengantin :

08:30 : Rombongan penjemput pengantin dan besan yang dipimpin

09:00 : Besan tiba dirumah pengantin putra

09:25 : Pengantin, besan beserta pengiring berangkat menuju tempat upacara

2. Upacara penerimaan pengantin :

08:30 : Bapak dan Ibu pengantin putra di tempat upacara

Catatan : Iringan gending ketawang puspawarna

09:00 : – Para undangan mulai berdatangan

Catatan : Iringan gending Mangayu-hayu (gending bonangan dan Klenengan )

– Di tempat upacara di bawah tratag, teman-teman pengantin putra dengan berpakaian adat Jawa berdiri di kanan kiri jalan yang akan dilewati pengantin dan rombongan

10:00 : – Kedua pengantin, besan dan pengiring tiba di depan tempat upacara

– Setelah iring-iringan pengantin tiba di depan upacara, rombongan pengantin diatur secara rapi

– Kembar Mayang mendahului masuk ke tempat upacara dan terus ditempatkan dekat pada Kembar mayang yang telah ada

Ucapan pada saat pasrahan kami contohkan:

 

1. Pasrahan Pengantin

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Kawula nuwun, Bapak …….. sekadang ingkang dahat sadu ing budi, ingkang kapareng hanyelirani-hamakili penjenenganipun Bapak ……..

Kawula pun ……… ingkang tinanggenah minangka dados duta panjenenganipun Bapak …….. sarimbit kaparenga unjuk atur: Ingkang sapisan kawula hangunjuaken suka-syukur ing Pangayuning Pangeran Ingkang Maha Agung, dene hama-rengaken kawula dalah panjenengan sadaya saged pinarak hanjumenengi pahargyan ing kalanggahan punika.

Kaping kalih Bapak ….. sarimbit hangutaraken salam taklim winantu pamuji rahayu katur dumateng panjenenganipun Bapak …… Jangkep kaping tiganipun, hanuhoni golong-gilingipun sadaya, anggenipun badhe hamurwani bebesanan, kanthi linambaran dhaupipun ingkang putra sesilih inggih punika ….. kaliyan putranipun Bapak ….. naminipun ……

Ingkang kalenggahan punika, kawula sekadang sowan dinuta kinen hangirit calon pengantin : Anakmas …… katur ingarsanipun Bapak …… Ing salajengipun menggah kelampahaning ijab kabul saha panggih kawula sumanggaaken ing jengandhika.

Minangka pari pumaning atur, bilih wonten sigug-kidhunging patrap saho kirang tata-kramanipun atur kawula, mugi panjenengan kapareng hangluberaken gunging samudra pangaksama, Satuhu.

 

2. Waluyan pasrahan (hanampi) panganten

Karahayon, katentreman tuwin kabahagyan mugi kasarira ing penjenengan sarta para rawuh sadaya awit saking Sih, Tuntunan Pepadang saha Pangayomanipun Gusti Allah ingkang Maha Asih lan Maha Mirah.

Kawula nuwun inggih. Kawula pun ….. ingkang hanyarirani makili panjanenganipun Bapak …. Ingkang tinanggenah kinen hanampi pasrahan ijengandika calon penganten anakmas …… ingkang badhe kadhaupaken kaliyan putranipun, sesilih …….

Gurawalan panami kawula menggah pasrah ijengandika Calon penganten punika. Salajengipun ing wekdal ingkang sampun kangkah. Panganten kakalih badhe ijab kabul kadhaupaken terus pinahargya kanthi upacara panggih.

Wasana sumangga ijengandika hanjumenengi lan mahargya ngantos paripurnaning Upacara.

Bilih wonten kirang sekecaning palenggahan dalah kirang ecaning pasugatan kaparenga panjenengan sadaya paring pangapunten kanthi linambaran sih katresnan.

Winantu ing pangesthi mugi pangeran tansah hangayomana dhumateng kawula sadaya. Satuhu.

ARTI DAN TUJUAN MALAM MIDODARENI MENURUT TRADISI

Midodareni berasal dari kata widodari yang berarti bidadari perempuan yang mempunyai paras elok atau cantik sekali (kata kiasan). Para bidadari bertempat di kahyangan menurut cerita dalam pewayangan. Seorang perempuan yang memiliki paras cantik sekali dapat diumpamakan seperti bidadari.

Malam midodareni adalah malam menjelang akad nikah dan biasanya akad nikah dilaksanakan pada pagi harinya. Dalam malam midodareni kedua calon pengantin (jejaka dan gadis yang akan menikah pada pagi harinya) sudah dapat disebut pengantin. Malam midodareni bertujuan untuk tirakatan memohon rahmat Tuhan dengan maksud agar dalam menyelenggarakan upacara tidak ada aral melintang.

Disamping itu agar para bidadari memberikan berkah kepada pengantin putri supaya menjadi cantik sekali. Hal ini ada kaitannya dengan pingitan. Apabila calon pengantin putri menjalani pingitan misalnya selama 7 hari dengan merawat badan paras muka, maka bila telah dirias pengantin putri seolah-olah menjadi sangat cantik. Banyak para tamu yang terpesona akan kecantikan pengantin putri (banyak yang “pangling”). Ini adalah berkat tradisi adanya pingitan.

Malam Midodareni juga dimanfaatkan untuk mengadakan penelitian dan pemeriksaan segala sesuatu agar dalam pelaksanaan upacara dapat berjalan tertib dan lancar. Pada malam midodareni pengantin putra sudah berada di pondokan untuk melaksanakan nyantriNyantri artinya mengabdi terlebih dahulu kepada calon mertua sebelum melaksanakan upacara ijab kabul dan panggih.

Selama malam midodareni pengantin putra tidak boleh bertemu dengan pengantin putri.

JALANNYA UPACARA MALAM MIDODARENI

Agar upacara berjalan dengan lancar maka perlu diatur sebagai berikut :

  1. Sehari sebelum upacara malammidodareni perlu dipersiapkan sesaji seperti siraman, sesaji kamar pengantin, sesaji malam midodareni, sesaji bucalan (buangan) dan sesaji dapur (pawon)
  2. Tuwuhan sudah harus dipasang di kanan kiri pintu gerbang atau pintu masuk halaman rumah orang tua calon pengantin putri.
  3. Sehari sebelum upacara akad nikah, panggih dan resepsi, calon pengantin putri mandi kramas sendiri sampai bersih sekali.
  4. Kira-kira pukul 15:00 atau 16:00 upacara siramanyaitu calon pengantin putri dimandikan dengan air kembang setaman.
  5. Setelah itu rambut kepala calon pengantin putri diratusi dengan dupa harum, bulu roma di bagian tengkuk dikerik dan athi-athinyadibentuk seperti hiasan rambut para bidadari. Sementara dari Juru Rias (Dukun Rias) masih menggunakan do’a-do’a khusus untuk kecantikan agar pengantin dirias betul-betul menjadi cantik sekali.
  6. Upacara khusus bila ada misalnya : (a) Upacara Bubak Kawah yaitu bila pengantin putri adalah anak sulung, (b) Upacara Tumplak Punjen yaitu bila pengantin putri adalah anak bungsu, (c) Upacara Langkahan yaitu bila pengantin putri mendahului kakaknya baik kakak perempuan maupun kakak laki-laki.
  1. Bila upacara khusus itu telah selesai, pengantin putri bersama-sama para sesepuh yang hadir membantu malam tirakatan sampai pukul 24:00, dengan maksud agar dalam upacara perkawinan nanti mendapatkan berkah dari Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada halangan apa pun. Menurut tradisi tepat jam 24:00 dengan perantaraan doa-doa sembagadari Dukun Paes(Juru Rias) para bidadari akan menurunkan cahaya kecantikan kepada paras pengantin putri. Bagi para muda-mudi yang turut tirakatan bersama-sama calon pengantin putri akan menerima berkahnya (sawabnya) untuk segera mendapatkan jodoh seperti yang diharapkan oleh para muda-mudi.
  2. Tepat pukul 24:00 diadakan selamatan midodareni yang terdiri dari : nasi gurih,ingkung sepasang, satu gelas air putih bersih dengan kembang setaman.

Upacara panggih sering mempunyai perbedaan-perbedaan antara daerah satu dengan daerah lain di Jawa. Hal ini menurut adat istiadat setempat. Perbedaan-perbedaan ini disebabkan belum adanya pedoman secara baku dalam bentuk buku. Perbedaan-perbedaan tersebut sering menimbulkan perselisihan perasaan antara satu dengan lainnya, yang mungkin akan membawa pengaruh kurang baik dikemudian hari. Sering kali juga menjadi bahan pergunjingan terutama para ibu yang ikut aktif dalam pelaksanaan penyelenggaraan upacara panggih tersebut. Untuk mengurangi perbedaan-perbedan dan pergunjingan tersebut perlu diatur jalannya upacara panggih secara kronologis sebagai berikut :

  1. Pengantin putra dan putri setelah dekat dengan tempat upacara panggih yang telah disiapkan, masing-masing diapit oleh dua pemuda untuk pengantin putra, dua pemudi untuk pengantin putri yang masing-masing membawa kembar mayang
  2. Bapak dan Ibu pengantin putri dipersilakan ikut menyaksikan di tempat panggih
  3. Upacara panggih dimulai dengan saling melempar sadak (sirih yang telah digulung dan diikat dengan benang) antara pengantin putra dan pengantin putri.
  4. Upacara menginjak telur yaitu pengantin putra menginjak telur ayam kampung sampai pecah dengan kaki kanan.
  5. Setelah pengantin putra menginjak telur disusul pengantin putri membasuh kaki kanan bekas menginjak telur dengan air kembang setaman.
  6. Pengantin putra menerima persembahan dari pengantin putri dengan kedua tangan pengantin putra memegang pundak pengantin putri. Pengantin putri membasuh kaki pengantin putra merupakan persembahan.
  7. Pengantin putra memegang tangan pengantin putri untuk di ajak berdiri bersama-sama, memohon doa restu kepada para orang tua (pinisepuh) dan para hadirin yang biasanya dibacakan oleh Juru Rias. Pada saat itu kedua pengantin diharuskan memejamkan kedua matanya rapat-rapat.
  8. Upacara penukaran kembar mayang
  9. Pengantin putri dipersilakan berdiri di samping sebelah kiri pengantin putra dan kedua pengantin bergandengan tangan dengan jari kelingking mengelilingi tempat upacara menginjak telur satu kali.
  10. Bapak dan Ibu pengantin putri menyelimuti kedua pengantin dengan kain sindur, dan setelah itu Bapak pengantin putri berdiri di depan kedua pengantin, sedangkan ibu pengantin putri tetap di belakang kedua pengantin. Kedua pengantin memegang ikat pinggang sang bapak dan sang ibu memegang pundak kedua pengantin, tangan kiri memegang pundak bagiakiri pengantin putri, sedang tangan kanan memegang pundak pengantin putra. Setelah siap Bapak, kedua pengantin dan Ibu berjalan menuju ke tempat pelaminan dengan menurut irama Gending Kodok Ngorek. Upacara tersebut dinamakan sindur binayangan atau singkepa. Dalam hal ini mengandung arti bahwa Bapak yang berjalan di depan sebagai “ing ngarso sun tulada” sedangkan kedua pengantin berada ditengah sebagai “ing madyo mangun karso” dan belakang kedua pengantin adalah sang Ibu sebagai “tut wuri handayani”.
  11. Upacara Bobot Timbang yaitu setelah Bapak sampai di pelaminan, maka Bapak duduk di pelaminan yang kemudian disusul kedua mempelai duduk di pangkuan Bapak yaitu pengantin putra duduk di paha kanan sedangkan pengantin putri duduk di paha sebelah kiri. Sementara itu sang Ibu berjongkok di depan kedua pengantin sambil tangan kanan memegang paha pengantin putri. Pada saat itu Ibu bertanya kepada Bapak “Abot endi Pakne?” (Berat mana Pak?) yang kemudian dijawab oleh Bapak “Pada abote!’ (sama beratnya!)
  12. Upacara Tanem yaitu setelah upacara bobot timbang selesai Bapak berjalan melalui tengah antara pengantin putra dan putri, menuju kehadapan kedua pengantin. Setelah teratur rapi Bapak memberi sekelumit wejangan yang selanjutnya Bapak mendudukkan kedua pengantin di pelaminan dengan memegang pundak (bahu) mereka.
  13. Upacara Kacar-Kucur atau disebut juga upacara tanpa kaya yaitu setelah selesai upacara bobot timbang, Bapak dan Ibu duduk disebelah kiri pengantin putri yang kemudian disusul dengan upacara kacar-kucur yaitu pengantin putra berdiri memberikan isi kantongan kepada pengantin putri yang telah siap untuk menerimanya dengan kain khusus untuk itu dan setelah isi kantongan habis, kain itu untuk membungkus isi dari kantongan yang kemudian diberikan kepada Ibu untuk disimpan.
  14. Upacara Kembul Dahar atau bersantap bersama, yaitu kedua pengantin saling suap-suapan dengan nasi kuning atau nasi punar.
  15. Upacara Tilik Pitik atau disebut juga mertuwi yaitu upacara penerimaan besan. Setelah selesai upacara kembul dahar, Bapak dan Ibu pengantin putri berdiri dan kemudian berjalan menuju mendekati pintu untuk menjemput besan yaitu Bapak dan Ibu prngantin putra. Bapak dan Ibu pengantin putr mempersilahkan duduk di sebelah kanan pengantin putra dengan susunan : Kedua pengantin di tengah diapit oleh patah sakembaran, kemudian sebelah kanan kirinya Ibu-ibu pengantin dan pinggir kanan kiri adalah Bapak pengantin putra dan Bapak pengantin putri.
  16. Upacara Sungkeman yaitu setelah selesai upacara tilik pitik kemudian disusul dengan upacara sungkeman. Kedua pengantin menyampaikan sungkem sembah kepada Bapak dan Ibu dari kedua pengantin.
  17. Upacara Tukar Kalpika yaitu pengantin putra dan pengantin putri saling menukar cincin dari jari manis tangan kiri dipindahkan ke jari manis tangan kanan
  18. Upacara Minum Air Degan (kelapa muda) yaitu Ibu pengantin memberikan gelas berisi air degan kepada pengantin putra, sedangkan Ibu pengantin putra memberikan kepada pengantin putri. Selanjutnya disusul dengan minum bersama-sama. Semua mengucap seger sumyah.