Kraton/karaton (ke-ra-tu-an) menunjukan tempat kediaman ratu (=raja) atau biasa juga disebut kedaton (ke-datu-an) berarti istana/kerajaan. Kraton biasanya merupakan bangunan yang unik dan struktur bangunanya cenderung khusus. Fungsi pokoknya adalah tempat kediaman raja. Karena Raja sebagai (central figure) pemerintahan, maka akhirnya kraton pun menjadi pusat budaya, acuan nilai, adat/aturan, dan sumber ilmu bagi masyarakatnya dan lingkungannya baik secara fisik dan non fisik..

Secara fisik bangunan Kraton Paku Buwono Solo terdiri dari bangunan inti dan lingkungan pendukungnya seperti Gapura (pintu gerbang), alun-alun, masjid , pasar dll.

Nama bangunan nya bermakna/filosofi tertentu yang merupakan gambaran adab/tatanan yang mengandung nilai budi dan budaya tinggi serta melambangkan maksud serta fungsinya.

Misalnya tahapan menghadap raja dimaknakan dalam nama- nama gapura masuk, yaitu: Kori(gapura) manguKori brojonoloKori kamadungan dan Kori srimanganti, yang artinya adalah sebelum menghadap raja harus berbekal: kemantapan jiwa (tidak ada keraguan/Mangu) harus tajam pandangan dan pikiranya/Brojonolo serta mawas diri/Kamandungan selanjutnya menanti dengan tertib menghadap raja/Srimanganti (Sri=Raja; menganti=menanti), demikian pula prilaku seperti memberi sembah, ngapurancang, duduk bersila, laku dodok, adalah merupakan adab/etika tertentu yang menggambarkan derajat kesusilaan.

Bahasa yang dipakai adalah bahasa kromo inggil dan kromo andap yang bertingkat menurut pangkat dan tataran yang berlaku, namun kepada raja ada pola bahasa yang baku dan khusus misalnya “sampeyan ndalem” untuk menyebut asma raja yang artinya “Sri Paduka yang Mulia”

Karaton Surakarta Hadiningrat mono haywa kongsi dinulu wujud wewangunane kewala. Nanging sira nyumurupana, ian handadekna maknane kang sinandi, dimen dadi tuntunaning laku; wajibing urip ing donya tumekeng ndelahan” 

Didepan pintu gerbang I (Gapura Gladag) menuju alun-alun, terdapat dua buah patung raksasa, yang dibuat pada tahun Jawa 1860 atau 1930 masehi. Bahannya dari pasir Pandansimping.

Jalan masuk alun-alun dibagi dua: Gladag di ssebelah utara dan Pamurakan di selatan, yang di kiri-kanan berdiri gapura yang megah dibangun pada Ehe 1860 atau 1930 M, bertepatan dengan ulang tahun ke-64 PAKU BUWANA X (Kamis legi 21 Rejeb Alip 1859 atau 3 Januari 1929). Sebelah utara digunakan untuk kandang rusa dan binatang buas lainnya dan sebelah selatan untuk “memurak” (memotong-motong) daging.

Siti Hinggil (Lor) adalah bangunan di selatan Pagelaran yang di dalamnya terdapat bangunan kecil yang disebut Maguntur Tangkil. Makna dan fungsinya cukup mendalam dan panjang. Oleh sebab itu ada ungkapan Jawa yang berbunyi : “Sapa nyemak babad, nalar lumajad. Sing nlesih sujarah, ati jumangkah”.

“Sampurno Sangkan Paraning Dumadi –

Wijiling adadi sarining pepadhang, mulih mula-mulanira, honcat dedalan padhang hatingal padhang”.  Sebagai bagian dari alur filosofi “Sangkan Paraning Dumadi”dari utara ke selatan, maka posisi Kori Mangu adalah posisi kadya rikma pinarasasra atau ibarat titian selembut rambut dibelah tujuh.

Turun dari Siti Hinggil, lewat Kori Mangu sebelum menyebrang ke Kori Brajanala, maka akan melewati Kori Renteng yang bermakna agar dalam proses menghadap Paraning Dumadi, harus merelakan berbagai beban komplikasi keinginan duniawi dan pribadi, untuk kesejahteraan sosial.

Kori Brajanala bermakna agar ketika mulai masuk ke dalam Keraton dalem yang dalam Site-plan-nya bermakna telah memasuki nara sumber alam keTuhanan, maka Sang Musafir Panembah (Komunitas kawula alit) harus legawa untuk menanggalkan segala ‘arogansi drajad martabat semat’ serta harus beritikad jernih, bersih dan sakral dengan mempertajam rasa, budi luhur, tatakrama, daya tanggap, dalam intuisi Panembah. (Brojo=Tajam; Nala=Rasa)

Di bagian dan dalam bangunan Kori Brajanala terdapat Stage-space yang disebut Bangsal Wisamarta, yang berarti penawar bisa/racun. Maknanya adalah kekuatan penetralisir Keraton dari berbagai kekuatan-kekuatan destruktif dari luar.

Melewati Site-Entrance Pelataran Kamandungan dan kemudian menapak pada Site Balarata menuju Main-Entrance Kamandhungan, memberikan makna bahwa laku batin sudah sampai pada bagian dalam prosesi Panembah (Andhung). Ungkapan Mulat Sarira Hangrasa Wani, yang berarti harus tanggap diri atau self corectionapakah kita sudah pantas, bersih, rapi bertatakrama dalam ‘berbusana’ (agama ageming aji) untuk menghadap Sang Pencipta.

Turun dari space Kamandhungan di sebelah barat terdapat Bangsal Smarakata. Proses pembudayaan naluri libido asmaragama menjadi bentuk kultural yang lebih steril dari nafsu hewani sehingga lebih bermuatan saresmi yang bersifat sakral lantaran senggama adalah mekanisme natural fisikal yang sesungguhnya berbarengan dengan implementasi nukad ghoib sangkan paran muasal ‘terproduksinya’ sebuah kelahiran manusia.

Gladag artinya tombak untuk berburu binatang; juga berarti Abdi Dalem Gladag menjalankan tugasnya, dengan menyediakan tenaga dan alat-alat angkut. Sedangkan Pamurakan berarti tempat memotong-motong daging. Pamurakan (pagurakan) juga berarti tempat menyerahkan urak (Urak = surat atau tanda melaksanakan suatu kewajiban)

Alun-alun utara adalah suatu tanah lapang yang luas lapang yang luas di mana dilangsungkan bermacam-macam keramaian, latihan berperang, olah raga, dsb. Dulu fungsinya bermacam-macam: latihan perang dengan naik kuda dan bertombak setiap hari sabtu (watangan) diiringi gamelan (patalon, talu=mulai) atau “Gamelan Setu”, untuk upacara Maleman (21 Puasa) dan Gerebeg 1 Syawal, 10 Dulhijah, dan 12 Maulud. Di samping itu, alun-alun juga dipergunakan untuk “rampongan” harimau sebagai latihan kemahiran mempergunakan tombak. Juga untuk mengadili orang yang salah menurut pengadilan Pradata (negeri). Setelah hukuman mati dijatuhkan, tubuhnya dibiarkan di sebelah utara Ringin kurung agar diketahui umum sebagai pelajarannya.

Beberapa bangunan di sekitar alun-alun utar

a.Sebelah barat, utara, dan timur terdapat beberapa rumah yang disebut Pakapalan (Kapal = kuda, pakapalan =

tempat kuda). Tempat itu digunakan untuk menambatkan kuda-kuda para Abdi Dalem dari berbagai daerah yang akan menghadap Raja di hari Raya. Bila raja mengadakan perayaan istimewa, di situ dilangsungkan perayaan

sendiri-sendiri yang disebut “pakajang”.

  1. Di sebelah tenggara, terdapat bangsal patalon, tempat Gamelan Sabtu dibunyikan dalam latihan keprajuritan (watangan).
  1. Di tengah alun-alun terdapat dua pohon beringin putih (waringin kurung). Sebelah barat bernama Dewandaru  (keluhuran), sebelah timur bernama Jayandaru (kemenangan). Beringin ini dibawa dari alun-alun Kartasura. Di sinilah  tempat “pepe” (hak petisi) bagi seseorang/rakyat yang tidak puas terhadap raja. Dengan berpakaian serba putih ia  duduk di bawah pohon beringin kurung.
  1. Sebelah barat alun-alun adalah Masjid Agung. Di podium masjid terdapat tulisan “rukuning Islam iku limang  prakara”, di sebelahnya lagi ada ukiran kayu dengan kaligrafi yang dibuat pada jaman PAKU BUWANA III (tahun  Wawu 1869). Kemudian ada menara masjid (33 meter), dibuat oleh PAKU BUWANA X saat ultah ke-40. Jadi Masjid Agung ( saka guru ) dibuat jaman PAKU BUWANA III tahun 1869 atau “ Trusing sarira winayang ratu “ atau 1177 H (hangraras temen pangandikaning Nabi) atau 1204 H ( dadi luhur menembah ing Allah ). Dahulu masjid ini diurusi Kawedanan Yogaswara. Dalam acara Sekaten ( Muludan ) dibunyikan, di bangsal selatan bernama Kyai Gunturmadu, dibuat PAKU BUWANA IV tahun 1718 ( Naga Raja Nitih Tunggal ). Dibangsal sebelah utara bernama Kyai Guntursari, dibuat zaman Mataram tahun 1566 ( Rerenggan wowohan tinata ing wadah ). Rambu atau gending permulaan dalam sekaten dengan gending Rangkung.
  1. Memba’ul ‘Ulumterletak di selatan masjid, dibangun Paku Buwana X.,diperintahkan patih KRA Sasradiningrat IV agar Abdi Dalem Yogaswara (mutihan) diberi kursus agama Islam agar dapat mengajar kepada rakyat. Sekolah itu didirikan pada 20 Jumadilawal Alip 1833 (1950 M). Kepala sekolah yang pertama adalah Kyai Bagus Arfah, seorang ulama besar. Saat itu menggunakan ruang pawestren Masjid sebelah utara dan selatan untuk ruang kelas. Tahun 1915 PAKU BUWANA X mendirikan gedung di halaman masjid. Pelajarannya meniru seperti pesatren tetapi dengan cara klasikal.
  1. Sebelah selatan alun-alun terdapat 3 pucuk meriam, dari barat ke timur: Kyai Pancawara, K. Swuhbrasta, Kyai Sagarawana. Sekarang dipindah di sebelah timur Sasana Sumewa dan kanan-kiri jalan masuk Sitihinggil. Barat Sasana Sumewa ada meriam Kyai Santri. Meriam bukan alat perang tetapi tanda kerajaan, yaitu menandai peristiwa penting: menghormati tamu agung, kelahiran putra-putri PAKU BUWANA dari permaisuri, dan tiap pesowanan agung.
  1. Sebelah Utara alun-alun terdapat 2 pohon beringin yang di sebelah barat bernama jenggot = laki-laki, timur bernama wok = perempuan.
  1. Sebelah selatan alun-alun berdiri pohon waringin Gung = besar/tinggi dan waringin Binatur = rendah/hina. Disebelah baratnya berdiri tugu peringatan 200 tahun Karaton Surakarta (dibuka 1939).
  1. Di tengah tempat meriam yang masing-masing kosong, ada bangsal Pamandangan, tempat kuda yang siap dinaiki oleh Sunan atau putranya pada saat upacara besar.
  1. Bagian barat dan timur dulu berdiri bangsal Paretan, tempat menyediakan kereta kebesaran (kencana) untuk Sunan dan Putranya pada upacara besar.
  1. Di barat daya da timur lautberdiri pintu gerbang Slompretan dan Batangan, dibuka pada hari Rabu Pahing Sura

Di tepi jalan sebelah selatan alun-alun terdapat bangsal besar yang menghadap ke utara, bernama Sasana Sumewa ( sasana = tempat, sumewa = menghadap/sowan ) Bangsal ini dibangun pada tahun jawa 1843 ( 1913 ) dan selesai pada hari Kamis 9 Mulud Ehe 1844. Semula lantainya masih tanah/pasir dan atapnya dari bambu. Maka dinamakan “tratag”. Dahulu tempat itu namanya Pagelaran (gelar = benteng, Pagelaran berarti tempat membentangkan kehendak Sunan tentang berbagai hal di kerajaan)

Di tengah-tengah ada sebuah bangsal kecil bernama Bangsal Pangrawit (pindahan dari Kartasura). Tempat itu digunakan untuk duduk/berdiri Sunan untuk menyampaikan pesan atau perintah kepadabawahannya atau pelantikan pejabat. (Ngrawit = asri, indah permai; Pangrawit berarti mempermaikan, memperindah)

Bangsal Pacekotan di kanan Sasana Sumewa adalah tempat menghadap orang yang akan menerima anugerah dari Sunan; Tiap hari tepat iniuntuk peristirahatan Abdi Dalem prajurit keamanan. Bangsal Pacikeran di kiri Sasana Sumewa adalah tempat orang yang akan dijatuhi hukuman oleh pengadilan. Di timur undak-undakan ke Sitihinggil dulu ada bangsal Mertalulut, tempat Abdi Dalem mertolulut membawa hadiah kepada mereka yang berjasa. Sekarang ditampati Abdi Dalem Meriam Kyai Pancawara. Di barat undak-undakan adalah bangsal Singanegara, tempat Abdi Dalem Singanegara melaksanakan putusan pengadilan. Sekarang ditempati meriam Kyai segarawana.

Di selatan Sasana Sumewa terdapat sebidang tanah tinggi dengan pagar batu dan terali besi, dinamakan Sitihingil, dibangun pada tahun Alip 1691 (Siti = tanah, inggil = tinggi). Utara dengan pintu besi diberi nama Kori  Wijil (pintu ke III), dimana berada 8 pucuk meriam, yaitu dari barat ke timur namanya: Kyai Brising, Kyai Bagus, Kyai Nakula, Kyai Kumbarawa, Kyai Kumbarawi, Kyai Sadewa, Kyai Alus, dan Kyai Kadhalbutung/Mahesa Kumali/Pamecut.

Di depan Kori Wijil terdapat batu Pamecat untuk memenggal leher mereka yang dihukum mati.

Di tengah Sitihinggil ada bangsal yang nama-namanya urut dari sebelah ke utara adalah:

  1. Bangsal Witana, di dalamnya ada balai Manguneng tempat bersemayam meriam Nyai Setomi. Manguneng (mengun-neng) artinya menggerakkan (in beweging brengen). Nyai Setomi yang berada di dalamnya selain memberi selamat juga dapat menggerakkan jiwa dalam suasana kegembiraan dan kemeriahan dengan penuh kesopanan seperti tiap hari Grebeg. “Grebeg” berarti galau, artinya di hari itu Sunan keluar dari Karaton ke Sitihinggil digalau oleh putra-putra dan pejabat lainnya.
  2. Bangsal Mangunturtangkil(berada di dalam bangsal Sewayana), tempat duduk Sunan pada hari Grebeg Mulud 12 Rabiulawal, Grebeg Puasa 1 Syawal, dan Grebeg Besar 10 besar. Manguntur = Sitihinggil/panunggal, tangkil=luhur/mulia. Mangunturtangkil berarti bangsal di Sitihinggil yang mulia atau panunggul, (kahinggahaken) pada hari Senin tanggal 24 Besar Alip 1835. Sedangkan Sewayana, tempat duduk para Putra Senata dan Abdi Dalem berpangkat tinggi, yang menghadap pada hari Grebeg tersebut. Sewa = menghadap, yana = orang. Jadi tempat orang menghadap. Lantainyaa ditinggikan pada Senin 24 Besar Alip 1835.

Adapun bangsal di tepi sebelah timur, dari selatan adalah:

  1. Bangsal Angun-angun, tempat ii biasanya untuk pacaosan Abdi Dalem Sarageni Kiwa-tengen.
  2. Sebelah utaranya adalah bangsal Gandhek Tengen, tepat memukul gamelan Kodhok Ngorek; hari-hari biasa tempat ini untuk pacaosan Abdi Dalem Gandhek Tengen.
  3. Di tepi barat sebelah selatan berdiri bale Bang, untuk menyimpan gamelan tersebut
  4. Sebelah utaranya bernama Gandhek Kiwa, tempat menyiapkan pesta; tiap hari untuk pacaosan Abdi Dalem Gandhek Kiwa.

Pintu Sitihinggil yang ke selatan bernama Kori Renteng/Mangu (pintu ke-IV) (renteng = pertentangan dalam hati, mangu = ragu-ragu). Sitihinggil dan Sasana Sumewa dikelilingi jalan yang bernama supit urang.

Konsep budaya karaton ini maksudnya pengertian budaya menurut Karaton Surakarta Hadiningrat. Bukan pengertian budaya menurut orang lain, bukan pengertian budaya menurut pandangan di luar Karaton Surakarta. Hal ini perlu ditegaskan, sebab dapat membantu pemahaman kita mengenai pembahasan Radya Laksana sebagai inti Kebudayaan Karaton Surakarta.

Budaya Karaton atau juga dapat disebut kabudayan karaton. Kata budaya berarti “woh pangolahing budi” ‘hasil olah budi’. Makna tersebut mengandung dua pengertian yaitu (1) produk, tercermin dalam kata woh ‘buah’, dan (2) proses, tercermin dalam perkataan pangolahing budi olah budi’. Kata Karaton berasal dari kata Ratu ‘raja’, dan karaton itu bearti: pedalemaning ratu ‘kediaman raja’, dan ratu ‘raja’ menjadi “Pangembaning budaya Jawi”. Pangemban budaya Jawa yang didukung bersama-sama oleh Putra Sentana, Abdi Dalem,dan kawula tresna. Oleh karena itu, karaton juga sebagai tempat Manunggaling Ratu, Sentana, Abdi sarta kawula. ‘Bersatunya Raja, Sentana, Abdi serta Rakyat’. (KRMH. Yosodipura:1990;1).

Pernyataan budaya adalah woh pangolahing budi terdapat makna bahwa ngolah budi ‘mengolah budi’, itu merupakan karya manusia yang didasari lahir dan batin bersama-sama. Mengolah batin itu umpamanya : bertapa, bersemedi, dan sebangsanya yang pada pokoknya mendekat kepada Yang Maha Agung. Adapun mengolah lahir itu adalah tindak-tanduk berdasarkan keluhuran budi. Mengolah budi secara lahiriah dan batiniah inilah kemudian ada buahnya atau hasilnya, misalnya bangunan karaton, gamelan, gendhing, beksan, pusaka, tatacara, upacara dan sejenisnya, disebut Budaya.

Berdasarkan keterangan di atas jelaslah bahwa budaya karaton sebagai suatu produk yang melalui proses penciptaan secara lahir dan batin yang disertai permohonan kepada Yang Maha Kuasa agar dapat memancarkan perbawa dan wibawa. Perbawa yaitu daya kekuatan yang tidak tampak, sedangkan wibawa adalah kekuatan yang tampak (Suseno Priyo Suseno, 1992:1). Dengan demikian budaya merupakan suatu hal yang penting dalam kehidupan

Sehubungan dengan arti pentingnya budaya dalam kehidupan, termasuk karaton, maka ada satu ungkapan yang terkenal dari karaton. Ungkapan tersebut berbunyi : kuncara ruming bangsa dumunung aneng luhuring budaya ‘kemasyuran keharuman suatu bangsa terletak pada keluhuran budaya. Ungkapan tersebut merupakan Sabda Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Paku Buwana X, yang menunjukkan fungsi betapa pentingnya budaya Karaton dalam kehidupan, khususnya kehidupan di lingkungan Karaton Surakarta. Betapa arti pentingnya Budaya Karaton dalam lingkungan kehidupan karaton melahirkan suatu anggapan bahwa karaton sebagai Sumber Budaya dan bukan sebagai Pusat Budaya.

Karaton sebagai sumber budaya maksudnya karaton memiliki fungsi sebagai asal budaya. Dalam arti karaton sedagai sumber budaya Jawa. Hal ini perlu ditegaskan sebab ada istilah karaton sebagai pusat budaya. Disini ada dua pengertian yang berbeda. Karaton sebagai sumber budaya mengandung makna bahwa karaton sebagai tempat asal budaya, sedangkan karaton sebagai pusat budaya mengandung maksud bahwa karaton sebagai tempat berkumpulnya budaya. Sumber budaya juga mengandung makna tempat asal inspirasi, dan pusat budaya mengandung makna tempat koordinasi dari beberapa inspirasi.

Karaton Surakarta dengan segala isinya merupakan budaya peninggalan para Leluhur Hingkang Jumeneng Nata yang sampai sekarang masih dapat disaksikan. Pada umumnya masyarakat mengakui bahwa Karaton sebagai sumber kabudayan Jawi ‘sumber kebudayaan Jawa’. Cabang-cabang kebudayaan Jawa, khususnya di Surakarta, dapat dirunut kembali ke sumbernya yaitu Karaton Surakarta, sebagai contoh misalnya tatacara perkawinan Jawa.

Masarakat surarakarta pada umumnya ,mencontoh tatacara perkawinan yang dilaksanakan di karaton. Pada umumnya masyarakat masih percaya bahwa karaton sebagai sumber budaya Jawa. Disengaja atau tidak, masyarakat masih mencontoh tata cara perkawinan menurut adat Karaton meskipun tidak persisi sama. Hal yang demikian mengisyaratkan bahwa karaton sebagai sumber budaya Jawa menjadi panutan masyarakat yang ingin melestarikan kebudayaan Jawa.

Karaton adalah tempat tinggal raja (Ratu) dengan keluarganya atau merupakan pusat pemerintahan, ibu kota negara. Karaton sama dengan “’negara” (dalam bahasa Jawa nagari), yang memiliki pemerintahan sendiri (pamarentah), daerah tertentu (wewengkon), dan rakyat (kawula). Oleh karena itu, tempat tinggal atau bangunan atau rumah yang bukan kediaman raja bukanlah karaton. Karaton Surakarta Hadingingrat adalah peninggalan kenegaraan Indonesia asli dari kebudayaan Jawa, yang memiliki pemerintahan sendiri (otonom), daerah dan rakyat (kawula). Dengan kata lain, Karaton Surakarta adalah sebuah negara (Surjandjari Puspaningrat, 1996:36).

Karaton Surakarta sebagai suatu negara memiliki lambang yang disebut Radya Laksana. Dalam lambang tersebut mengandung makna yang dalam mengenai budaya karaton. Oleh karena itu, untuk mengetahui inti kebudayaan karaton dapat diketahui lewat Radya Laksana. Disamping karaton sebagai suatu negara, memiliki lambang atau simbol, karaton sendiri dapat dianggap sebagai lambang

Karaton Surakarta sebagai lambang dapat dijelaskan sebagai berikut.

  1. Lambang kemanunggalan tiga unsur yaitu Raja, Sentana Dalem, dan Abdi Dalem/siapapun yang mengkeblat karaton.
  2. Lambang anugerah/wahyu Tuhan.
  3. Lambang tempat kedudukan wahyu Tuhan (Surjandjari Puspaningrat 1996:37).

Karaton Surakarta sebagai suatu lambang termasuk juga bangunannya. Hal yang demikian tercermin dalam Sabda Dalem Ingkang Minulya Saha Wicaksana Suhandap Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Paku Buwana X sebagai berikut:

“Karaton Surakarta Hadiningrat, haywa kongsi dinulu wujude wewangunan kewala, nanging sira padha nyumurupana sarta hanindakna maknane kang sinandi, dimen dadya tuntunan laku wajibing urip hing dunya tumekeng delahan”.

Janganlah Karaton Surakarta Hadingingrat hanya dilihat dari wujud/bentuk bangunannya saja, tetapi hendaknya diketahui, dimengerti serta dijalankan makna pesan-pesan yang tersirat dan tersurat, agar dapat menjadi tuntunan menjalankan kewajiban hidup di dunia dan akherat.

Pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa bangunan karaton memiliki makna tersirat. Makna tersirat ini sama dengan lambang atau simbol. Oleh karena itu, dengan kata lain perkataan dapat dinyatakan bahwa karaton dapat dianggap sebagai lambang. Sebagai suatu lambang,karaton memiliki makna simbolis, dalam hal ini adalah bangunan karaton

Karaton Surakarta adalah asset wisata budaya, yang menjadi salah satu atraksi dan objek wisata budaya di Indonesia, khususnya Propinsi Jawa Tengah. Kekayaan budaya yang dikandungnya ibarat tambang emas yang belum secara optimal dimanfaatkan. Oleh sebab iu, agar supaya masyarakat pengunjung dan calon pengunjung baik nusantara maupun mancanegara secara lebih awal memiliki dan dapat dibangun persepsi serta imaginasinya tentang budaya karaton; mereka perlu mendapatkan penjelasan/deskripsi singkat yang mendalam tentang Sri Radya Laksana. Pemahaman tentang kebudayaan Karaton Surakarta harus berawal dari sini.

Suguhan atraksi ini merupakan satu kunci pintu gerbang yang bisa membuka wawasan, memotivasi, serta mengajak pengunjung menyaksikan, merasakan dan menghayati isi kebudayaan berupa atraksi dan objek wisata budaya karaton yang disajikan. Dampak yang dapat diharapkan dari usaha ini adalah membangun persepsi dan imaginasi pengunjung dan sekembalinya dari karaton membawa kenangan yang bisa diceritakan, ditularkan kepada sanak saudara, teman dan kolega di tempat asalnya.