
1938 ada tanda tanda bahwa perang Dunia II akan menjalar ke Hindia Belanda(sekarang Indonesia),Tjarda Van Starehkenborg,Gubernur Djendral Berenscot,Panglima Angkatan Perang Belanda,menghadap Paku Buwono X ,agar beliau membuat gua perlindungan maksudnya agar ditiru rakyat,sebagai tindakan preventif.Terjadi dialog sbb:
"Kamu sinyo indo jendral"tanya Sinoehon(sebutan Raja)
"Rasanya begitu Tuan Sinoehen"jawab sang Jendral yang memang berkulit sawo matang
""Kamu sinyo Indo pertama yang berhasil menduduki jabatan begitu tinggi,Aku ikut bersyukur"
:Terima kasih Tuan Sinoehoen"ucap si Jendral dengan rasa lega karena dikira ada tanda misinya akan berhasil/direstui.
"Jendral,Aku beri jamianan bahwa selama Pakoebuwono masih hidup perang tidak akan sampai kesini"
Ďnsya Allah tuan Sinoehon"jawab si Jendral penuh tanda tanya?apa maksud Sinoehon ini,kok tidak cocok dengan analisa militernya."Sampaikan pada yang menyuruhmu Tjarda,bahwa Pakoebuwono tidak akan bikin apa apa,karena disini tidak akan ada perang,entah...kalau Pakuebowono sudah tidak ada lagi,kaamu akan terbirit birit masuk laut.
"Salam hormat saya pada Gubernur Jendral"ucap Sinoehoen dengan nada tinggi ( demikian diceritakan Pangeran Poerbonegoro yang mengantarnya) .Ucapan Sinoehon ini menimbulkan kesan sikap congkak dan takabur,namun disini Beliu bersikap sebgai Raja(Vorst),dipandang sebagai suatu "weco"yaitu suatu ucapan yang belum dapat ditangkap artinya pada saat diucapkan,namun akn menjadi kenyataan dikemudian hari,dan Sinoehoen dikenal sangat mempunyai kemampuan ini(weruh sadurunge winarah)
Dan ternyata benar.....,baru 1000 hari setelah beliau wafat ,orang orang cebol kuning(Jepang) mendarat di Jawa dan pembesar pembesar Belandakocar kacir lari melalui cilacap menuju ke Australia
Sinoehoen Pakoe Boewono keX adalah putra dari sinuwun P.BIX,dari
permaisuri kanjeng ratu Pakubuwono,putri dari Pangeran Wijoyo ke II. Sedangkan SinuwunP.B.IX putra
dari P.B.VI yang dibuang ke Ambon karena melawan belanda,dan yang oleh pemerintah RI diangkat
sebagai Pahlawan Nasional.Jadi PB.X adalah cucu PB.VI,maka dalam garis perjuangannya melawan
kekuatannya Belanda,beliau tidak pernah mengabaikan pesan dan terus melanjutkan perjuangan jejak
kakeknya yaitu P.BVI.Beliau dilahirkan pada hari : Kamis legi tanggal 22 Rajab Tahun 1795 (tahun
Jawa) atau tanggal 29 November 1866 Masehi jam 7 pagi.Waktu mengandung Ibunda Kanjeg ratu Pakubuwono
ngidam dahar : Gudang pakis rojo ,yang dengan susah payah di carikan seorang kerabat
bernama R.M Inggris dan diketeukan diruah Jan Smit di desa Gumawang.Pada saat kelahiranya
disambut oleh para sentono /kerabat dengan bunyi meriam dan segala tetabuhan dan terompet
lengkap dengan bunyi gamelan: "kodok ngorek"sebagai ujud syukur atas kelahiran calon
pengganti raja yang ditunggu tunggu.Setelah dewasa diangkat menjadi Pangeran dengan sebutan:Kanjeng
Gusti Pangeran Adipati Anom Hamengkoenegoro Soedibjo Rajapoetro Narendro Mataram
Setelah Ayahanda PBIX wafat pada tahun1939,P.BX dinobatkan sebagai
penggantinya dengan gelar : Sampeyandalem Hingkang Sinoehoen Kanjeng Pakoeboewono Senopati Ing
Ngalogo Ngabdulrahman Sayidin Panoto Gomo Hingkang kaping X.
Adapun sebutan "Sayidin Panoto Gomo"dikarenakan pada malam
sebelum penobatan,di masjid Poejosono Bandengan dihadapan para penghulu dari keturunan 9 Wali telah
"ngabekti"/sungkem meng "amini"sebagi wali hakim.
Pada waktu berstatus Pangeran beliau menikah dengan B.R.A Ajeng
Sumarti,putri K.G.MangkunegoroIV,namun sayang tidak dikaruniai anak,lalu beliau menikah lagi
tahun1845 dengan putri Soeltan Hamengku Buwono dari Jogya,yaitu R.A Mur Sudarinah,yang kemudian
bergelar Kanjeng Ratu Mas, namun ternyata dikaruniai seorang putri yaitu Kanjeng Ratu
Pembayun.Sampai dengan wafatnya 3 Januari 1924 ,dari 2 Permaisuri tersebut P.BX belum
mendaPatkan putra laki laki pengganti Raja .Namun beliau mendapatkan putra laki laki justru dari
seorang "selir dalem"/garwo ampean (istri bukan Permaiswari) yang paling tua
yang bernama B.R.A Mandoyoretnoyang kelak akan menggantikan kedudukan Raja ,yang bernama Pangeran
Hangabehi
PBX
dalam
sejarahnya juga melibatkan diri dalam
gerakan Nasional, ini tidak disangkal. Woerjaningrat seorang patih dalem dalam siasat politiknya
selalu menyalurkan kehendak Beliau dalam gerakan Nasional, dana disediakan jika diperlukan.
Untuk memperluas wawasannya Beliau secara teratur minta
diberi terjemahan dari koran-koran Belanda Locomatief,
Soerabaya’s Handelsbad, agar Beliau dapat mengikuti situasi dunia.
Sinoehoen berkali-kali mengadakan keliling pulau Jawa sampai
Lampung Bali dan Lombok, secara incognito. Dengan tujuan untuk menggugah semangat rakyat agar mau
mendukung gerakan nasional yang ada. Disamping juga menunjukkan dirinya sebagai Raja Djawa sejati
yang sanggup memerintah jika Belanda terusir dari tanah Jawa. Ternyata sambutan rakyat dimana-mana sangat besar. Beliau melakukan semua ini tanpa
memperdulikan sikap Belanda yang setengahnya merasa cemas, melihat pengaruh yang ditinggalkan Beliau
pada rakyat.
Tindakan
Sinoehoen ini bahkan menyerempet-nyerempet bahaya, kalau ditilik dari sangsi yang dapat dijatuhkan
Belanda kepada Beliau, sehubungan dengan politik kontrak yang ditanda tangani Beliau pada waktu naik
tahta. Namun semua ini tidak diperdulikan
Beliau
bahkan tidak pernah mau datang di kantor gubernur jika
ada urusan dinas yang perlu dibicarakan. Sebaliknya gubernur-lah yang harus menghadap ke keraton,
dan itupun harus mengikuti protokuler, yaitu memajukan permohonan dulu kalau mau ketemu Sinoehoen,
Beliau adalah satu-satunya Raja Jawa yang berani mengambil resiko ini. Beliau tetap menunjukkan
kewibawaannya sebagai Ratu.
Sinoehoen
sadar bahwa untuk mengadakan aksi militer terhadap Belanda sudah tidak mungkin lagi, sejak negeri
ini terpecah menjadi 2 kerajaan dan 2 kadipaten. Namun Beliau tidak akan melepaskan cita-citanya
membangun kembali kerajaan Mataram seperti semula. Kata seorang gubernur Belanda, bahwa dalam
mimpinya Sinoehoen masih membayangkan ini. Juga tidak akan dilupakan pesan yang ditinggalkan sang
eyang, Sonoehoen Pakoe Boewono Ke-VI, yang wafat di tanah pembuangan, agar jangan lupa mengambil
tindakan terhadap Belanda.
Oleh karena itu Beliau hanya dapat berharap, berharap dan
menunggu. Dan akhirnya yang diharapkan dan ditunggu itu tiba, yaitu dengan munculnya gerakan
nasional, maka langsung Beliau menyongsongnya.
Sinoehoen tidak sempat melihat terwujudnya cita-citanya
yaitu kerajaan Mataram kembali jaya, hanya dalam perwujudan yang lebih besar. Bukan hanya kerajaan
Mataram saja, tetapi kemerdekaan yang meliputi seluruh wilayah Indonesia. Bukan
hanya kerajaan Mataram melainkan Negara Republik Indonesia. Beliau mempunyai andil atas terwujudnya
semua ini.
Sejarah
Indonesia tidak hanya dimulai sejak diproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945,
melainkan sudah dimulai pada saat sejarah pra-proklamasi yang mendahuluinya. Masa pra proklamasi ini
tidak dapat dilepaskan dari sejarah Republik Indonesia.
Pematangan
situasi dan kondisi ikut menentukan keberhasilan proklamasi, dan pematangan situasi dan kondosi ini
terjadi pada masa pra-proklamasi yang mendahului proklamasi. Yaitu masa pra-proklamasi pada saat
mana organisasi-organisasi nasional mulai timbul sejak tahun 1908. Juga tidak ketinggalan peran para
pemimpin gerakan nasional, yang menanamkan jiwa nasional pada rakyat, sehingga mendorong rakyat
untuk bengkit, untuk berani melawan. Proklamasi berhasil karena pematangan situasi dan kondisi ini.
Timbulnya
niat Sinoehoen melakukan peran ini, bukan karena kebetulan, bukan karena menumpang keadaan , tetapi
niat Beliau ini sudah ada sejak keraton Soerakarta berdiri. Sejak semula
Beliau sudah bertekad untuk mengusir Belanda dari tanah Jawa dari Bumi Mataram dan
menghidupkan kembali kerajaan Mataram. Adanya organisasi-organisasi Mataram. Adanya
organisasi-organisasi nasional tersebut menguatkan tekad Beliau.
Terwujudnya
Republik Indonesia juga sesuai pesan ynag disampaikan Sinoehoen kepada putra-putranya: “gede
mongso iku pada bae disike kersaning Allah iku ora ilok Angger Ananging yen sangat kasebut ing
jongko wus manjing, kamongko angger mung meneng bae, iku bakal kasiku maring Allah. Manjinjing
sangat yen wus angger pada dadi yatim piatu. Kang prayitno ati-ati”
Belanda
terusir dari bumi Indonesia, kemerdekaan telah tercapai, setelah putra-putra Sinoehoen menjadi yatim
piatu. Semua putra Beliau berdiri di garis depan waktu berdirinya Republik Indonesia antaranya
Pangeran Poerbonegoro, pangeran Djatikoesoemo membuktikan ini semua.
Tidak ada
kata-kata yang tepat untuk memberi penilaianterhadap peran dan jasa Sinoehoen.
Kharisma
Beliau tidak pernah sirnah dimata orang Jawa dieluruh kepulauan, baik dikalangan rakyat kecil,
dimata kaum nasionalis sampai dimata para politikus.
Kita hanya dapat menundukkan kepala, memberi hormat . Hanya
sebuah pepatah Belanda yang cocok dalam hal ini: EERE WIE DE EERE TOEKOMT.
Pada akhir bulan November 1938 SINOEHOEN SRI SOESOEHOENAN PAKOEBOEWONO KE-X sakit keras dan akhirnya wafat pada tanggal 20 Februari 1939. Seorang Raja Besar telah meninggalkan kita.