
PAHLAWAN
KEMERDEKAAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA
"Ya, Allah, Tuhan kami
Yang Mahabesar lagi Maha kuasa, ampunilah akan dosa-dosa dan kekhilafan semua pahlawan kami yang
telah Kau panggil di medan laga. Dan lebih-lebih arwah beliau Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan
Paku Buwono VI, Pangeran Diponegoro beserta seluruh panglima-panglima, menggala-manggala , dan
seluruh prajurit-prajuritnya. Karena ternyata mereka itu telah melaksanakan perang suci, yang ingin
menghancurkan angkara murka, penjajah yang menghisap kekayaan bangsa dan negara kami. Tuhan,
terimalah semua pahlawan kami itu di surga-Mu yang penuh kemuliaan. Amin , Amin, Ya rabalalamin !
dengan tertangkapnya Pangeran Diponegoro, rasanya putuslah sudah
harapan raja untuk mengusir penjajah Belanda dari Nusantara tercinta. Dan terasahlah oleh beliau,
bahwa cita-citanya untuk melepaskan rakyat dan negerinyadari cengkeraman angkara murka bangsa asing
jauh dari terhingga. Peristiwa-peristiwa
yang menyayat hati yang baru saja berlalu datang silih berganti memasuki angan-angan beliau.
Itulah sebabnya, maka pada
tanggal 5 malam 6 juni 1830, Ingkang Sinuhunan Paku Buwono VI yang terkenal dengan sebutan beliau
"Sinuhun Banguntapa" pergi dengan diam-diam ke Parangtritis di pantai selatan Pulau Jawa
Tujuan perjalanan beliau
adalah untuk melakukan meditasi di sana. Maksudnya, beliau hendak menghubungkan diri dan minta
bantuan Ratu Roh Halus yang bertahta sebagai Ratu Lautan Selatan atau Lautan Hindia.langkah ini
diambil mengingat kebiasaan-kebiasaan raja-raja Jawa pada zaman dahulu kala pun melakukan hal yang
begitu pula. Seperti Panembahan Senopati, Sultan Agung, beserta seluruh
keturunannya sampai kepada raja-raja Surakarta Hadiningrat. Semuanya percaya dan ada hubungan baik
dengan Ratu Lautan Selatan itu.
Di pihak lain, Belanda semakin gencar usahanya untuk menguasai
pulau jawa secara menyeluruh. Dengan berhasilnya menipu Pangeran Diponegoro, Belanda semakin gigih
usahanya untuk menghancurkan kekuasaan Kerajaan Surakarta. Agar maksud jahatnya itu segera tercapai,
maka penjajah Belanda menyebar kaki tangan dan mata-mata sebanyak mungkin. Setiap langkah Sinuhun
Banguntapa selalu diawasinya dengan ketat.
Ketika Belanda tahu bahwa Sinuhun Banguntapa pergi ke pesisir
selatan itu hanya dikawal oleh dua orang abdi terdekatnya, penjajah Belanda seolah-olah mendapat
peluang emas yang tiada terkira harganya. Perjalanan sang raja dibuntuti terus-menerus, di samping
pasukan siap tempur disiagakan dari belakang.
Begitu Sinuhun Banguntapa sampai di Parangtritis, berlarianlah
kedatangan serdadu-serdadu Belanda itu untuk menangkap sang raja. Seterusnya, malam itu juga beliau
langsung di bawa ke Semarang. Dari sini diputuskan, bahwa raja dari Surakarta itu harus menerima
hukuman yang berupa pembuangan ke Ambon.
Kini beliau harus menjalani hidup dalam pengasingan di Ambon.
Walaupun demikian, agaknya semangat beliau masih juga menyala-nyala. Hal itu wajar. Sebab memang
dalam tubuh beliau mangalir darah pahlawan. Darahnya Sultan Agung Hanyakrakusuma dari Mataram, yang
pernah melawan Kompeni Belanda di awal abad ke-17. Sehingga tidak aneh lagi kalau keturunan Sultan
Agung itu, walaupun dalam pembuangan, masih berminat untuk melanjutkan perjuangannya.
Hal itu terbukti dalam usaha beliau untuk menyatukan diri
dengan Sultan Ternate, yang juga bermaksud melawan Belanda.
Dengan perantaraan Nona Kowi, anak Kwe Ko Hing,
dilakukannyalah maksud beliau untuk melepaskan diri dari pembuangan dan menuju Ternate.
Namu apa daya. Agaknya
kodrat telah digariskan oleh Tuhan Yang Mahakuasa. Nampaknya sang Maha Pencipta tidak memperkenenkan
Sinuhun Bnaguntapa meneruskan perjuangnnya di daerah Maluku. Sebelum beliau sempat bersatu dengan
Sultan Ternate, pihak penjajah telah memburu dan menagkapnya kembali. Peristiwa itu terjadi pada
tanggal 3 Juni 1849.
Hal itu adalah tingkah yang
wajar saja yang dilakukan oleh si angkara penjajah Belanda. Itu jelas. Sebab penjajah Belanda
menganggap, bahwa langjah beliau itu dianggap berbahaya. Membahayakan bagi berlangsungnya penjajahan di bumi Nusantara
tercinta ini
Untuk mencegah bahaya besar yang mengancam, maka penjajah
Belanda menghadap Sinuhun Banguntapa ke depan penembak-penembak kolonial Belanda yang angkuhdan
angkara. Dengan ledakan Baker Rifle, saat pula gugurlah Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Paku
Buwono VI sebagai kusuma bangsa yang harum semerbank mewangisepanjang masa di persada Pertiei
Untuk menutupi kecerobohan dan napsu kebiadapan angkara
murkanya, penjajah Belanda menyiarkan berita bohong. Belanda mengabarkan, bahwa Sinuhun Bnaguntapa
pulang ke rakhmatullah hanya karena kejatuhan tiang layar sewaktu beliau bercengkrama dan
berperahu-perahu di pantai.
Sekilas saja telah tampak. Bahwa
tidak mungkin seorang patriot gugur hany akrena bermain-main perahu layar.
Waktu terus berjalan sesuai
dengan peredarannya. Peristiwa dan berita di atas seolah-olah bagai tertimbun oleh
peristiwa-peristiwa lain. Lebih-lebih peristiwa yang lebih besar seperti Revolusi 1945 beserta
rentetannya.
Setelah hampir seratus
delapan tahun berlalu, tepatnya pada tanggal 13 Maret 1957, makam beliau Ingkang Sinuhun Kangjeng
Susuhunan Paku Buwono VI dipindahkan dari Ambon ke Astana Imogiri. Hal ini dilaksanakan atas
prakarsa dan usaha beliau Bapak Letjen G.P.H. Jatikusuma.
Di dalam pemindahan makam
beliau, sempat pula diketahui apa sebab-sebab wafat Sinuhun Banguntapa dari Kerajaan Surakarta itu.
Yang sebelumnya memang timbul suatu pertanyaan besar. Betulkah berita buatan Belanda, bahwa beliau
wafat karena kejatuhan tiang layar perahu ?.
Ternyata berita penjajah itu sekali bohong-tetap bohong.
Buktinya pada tulang kepala Sinuhun Banguntapa, tepat di atas pelupuk mata sebelah kanan. Jadi, pada
dahi beliau sebelah kanan berlubang akibat tertembus peluru senjata “Banker Rifle”.
Dengan demikian seolah-olah beliau menunjukkan kepada segenap
sentana dalem, segenap abdi dalem, dan segenap kawula dalem, bahkan kepada masyarakat Indonesia yang
luas ini. Yang seolah-olah beliau berkata dari pangkuan Tuhan, “Wahai kawulaku, warga Nusantara.
Aku rajamu, kurelakan pecahnya kepalaku dan tumpahnya darahku lewat senapan Baker Rifle dari tangan
angkara penjajah Belanda, demi cita-cita kemerdekaanmu !”.
Betapa besar pengorbanan Sinihun Banguntapa demi cita-cita
kemerdekaan Nusantara ini tiada ternilai harganya. Baik berupa harta, senjata, tamtama, bintara, dan
perwira, bahkan jiwa dan raga beliau sendiri dikorbankannya. Demi kemerdekaan
Berdasarkan itulah, maka Pemerintah Republik Indonesia,
mengangkat beliau Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Paku Buwono VI sebagai Pahlawan Kemerdekaan
Nasional Republik Indonesia.
Pengangkatan ini ditetapkan
di dalam Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 294, tertanggal 17 November 1964, yang
ditandatangani oleh presiden Sukarno. Surat Keputusan itu disiarkan pada tanggal 10 Desember 1964 di
Balaikota Kotamadya Surakarta.
Inilah salah satu peristiwa
bersejarah yang amat besar di Negara Kesatuan Republik Indonesia kita tercinta. Khususnya bagi
Kotamadya Surakarta, kota tempat lahir dan bertakhtanya Sinuhun Banguntapa almarhum.