PAKEM DAN LAKON PEWAYANGAN
|
Lakon-lakon
pewayangan itu adalah bagian pokok dari pada pergelaran seni pedalangan, baik untuk waktu semalam
suntuk maupun untuk 4 jam atau mungkin hanya waktu 2 jam, namun lakon tersebut kedudukannya tetap,
ialah merupakan pokok dari pada pergelaran seni pedalangan. Membicarakan
tentang lakon-lakon pewayangan, disengaja atau tidak disengaja, tentulah menyangkut apa yang disebut
“pakem” yang dalam bahasa Jawa berarti: pathokan, paugeran atau wewaton.
|
|
Semua itu merupakan “pedoman” yang tak dapat
diabaikan sama sekali. Yang disebut pakem itu meliputi 2 macam hal yang dalam pergelaran terpadu
menjadi satu kesatuan, ialah : (1). Pakem tentang lakon; dan (2). Pakem yang mengenai tehnik
perkeliran. Pada waktu dipergelarkan dalam perkeliran dua pakem
itu satu sama lain saling isi-mengisi dan jalin-menjalin, sehingga dapat mendatangkan suatu proses
ceritera yang mengandung keindahan serta pendidikan yang tinggi.
|
LAKON-LAKON PEWAYANGAN
Lakon-lakon pewayangan yang begitu banyak
dipergelarkan dewasa ini, pada hakekatnya dapat dibagi menjadi 4 bagian, ialah: 1. Lakon wayang yang
disebut pakem; 2. Lakon wayang yang disebut carangan; 3. Lakon wayang yang disebut gubahan; 4. Lakon
wayang yang disebut karangan.
Perinciannya sebagai berikut :
1.
Lakon pakem : yang disebut lakon-lakon pakem itu sebagian besar ceriteranya mengambil dari
sumber-sumber ceritera dari perpustakaan wayang, misalnya : lakon Bale Sigala-gala, pandawa dadu,
baratayuda, rama gandrung, subali lena, anoman duta, brubuh ngalengka dll.
2.
Lakon carangan : yang disebut carangan itu hanya garis pokoknya saja yang bersumber pada
perpustakaan wayang, diberi tambahan atau bumbu-bumbu berupa carangan (carang Jw = dahan), seperti
lakon-lakon : babad alas mertani, partakrama, aji narantaka, abimanyu lahir dll.
3.
Lakon gubahan : yang disebut gubahan itu ialah lakon yang tidak bersumber pada buku-buku
ceritera wayang, tetapi hanya menggunakan nama dan negara-negara dari tokoh-tokoh yang termuat dalam
buku-buku ceritera wayang, misalnya lakon-lakon: irawan Bagna, gambiranom, dewa amral, dewa katong
dsb.
4.
Lakon karangan : yang disebut lakon karangan itu ialah suatu lakon yang sama sekali lepas
dari ceritera wayang yang terdapat dalam buku-buku sumber ceritera wayang, misalnya lakon-lakon :
praja binangun, linggarjati, dsb. Dalam lakon praja binangun tersebut diketengahkan nama tokoh-tokoh
wayang seperti : ratadahana (Jendral Spoor), Kala Miyara (Meiyer), Dewi Saptawulan (Juliana),
Bumiandap (Nederland) dsb.
Perlu pula diketahui bahwa lakon-lakon wayang yang
disebut carangan, gubahan dan karangan itu, banyak juga lakon yang merupakan kiasan, misalnya :
Lakon babad alas mertani mengandung kias assimilasi (perkawinan) falsafah Hindu dan Jawa. Demikian
pula lakon-lakon seperti : pandawa Pitu, Pandawa Sanga, senggana racut dsb itu berisi kias dan
maksud mengenai ilmu kebatinan (baca: kejawen).
SUMBER CERITERA WAYANG
Untuk mengetahui sesuatu lakon wayang itu apakah
pakem atau bukan, tidaklah mudah, apabila orang tidak mengenal dan memahami sumber ceritera wayang.
Adapun sumber ceritera wayang itu ada 2 macam,
ialah :
1.
Sumber-sumber ceritera wayang yang berupa buku-buku, misalnya : Maha Bharata, Ramayana,
Pustaka Raja Purwa, Purwakanda dll.
2.
Sumber-sumber ceritera wayang yang semula berasal dari lakon carangan atau gubahan yang telah
lama disukai oleh masyarakat. Sumber-sumber ceritera ini disebut “pakem purwa-carita” yang kini
sudah banyak juga yang dibukukan, misalnya lakon-lakon: Abimanyu kerem, doraweca, Suryatmaja maling
dlsb.
Perlu diketahui pula bahwa dalam hal sumber-sumber
ceritera wayang inipun, seringkali terdapat cemooh-mencemooh satu sama lain. Asa yang beranggapan,
bahwa hanya “serat pustaka raja” itu sajalah yang benar. Ada lagi yang berpendapat, bahwa hanya
‘serat purwakanda” itu saja yang benar dlsb. Anggapan-anggapan dan pendapat-pendapat yang
demikian itu disebabkan oleh pengaruh adopsi ceritera wayang itu telah lama dan mendalam, sehingga
menimbulkan keyakinan bahwa ceritera wayang yang dimuat dalam buku sumber ceritera wayang tersebut
benar-benar ada dan terjadi dinegara kita ini. Padahal kalau ditilik dari sejarahnya, induk/sumber
ceritera wayang itu, baik ramayana maupum maha bharata, kedua-duanya itu merupakan weda (kitab suci)
agama hindu yang kelima, yang disebut panca weda. Kedua kitab tersebut memuat pelajaran weda yang
disusun berujud ceritera.
Serat ramayana diciptakan oleh resi walmiki
menceriterakan pelaksanaan karya Awatara Rama untuk mensejahterakan dunia. Serat Maha Bharata
diciptakan oleh Resi Wyasa, menceriterakan pelaksanaan karya Awatara Krisna juga untuk
mensejahterakan dunia.
SERAT PURWAKANDA
Mungkin diantara para pembaca ada yang baru sekali
ini mendengar adanya “purwakanda”, sebab buku “purwakanda” itu sampai sekarang belum pernah
dicetak serta beredar dalam masyarakat seperti “Pustaka raja purwa” dll.
“purwakanda” itu adalah salah satu sumber
ceritera wayang di Yogyakarta yang memuat kisah sejak bathara guru menerima kekuasaan dari sanghyang
tunggal sampai dengan bertahtanya R. Yudayana sebagai Raja di negeri Ngastina. Buku tersebut
berbentuk tembang dan yang ada mungkin hanya di Yogyakarta saja, baik dalam karaton maupun diluarnya.
Menurut kata orang yang mengetahui, ‘serat purwakanda” tersebut dihimpun atas perintah almarhum
Sri Sultan Hamengkubuwono V
Penghimpunan dan penyusunan Serat Purwakanda ini kira-kira bersamaan
waktunya dengan almarhum R.Ng.Ronggowarsita di SOLO,yang juga menghimpun dan menyusun Serat Pustaka Raja Purwasita
yang terkenal itu. Serat purwakanda tesebut oleh sebagian dalang-dalang di Yogyakarta, terutama
dalang-dalang dari keraton Yogyakarta dijadikan sumber lakon-lakon wayang dalam perkelirannya,sedangkan
di Solo adalah Serat Raja Purwasito.
PAKEM TEHNIK PERKELIRAN
![]() |
Pakem tehnik perkeliran atau wewaton tehnik
perkeliran itu setiap daerah atau setiap gaya tentu ada dan sudah barang tentu tidak dapat diabaikan
sama sekali. Hal itu erat sekali hubungannya dengan perasaan indah yang hidup di masing-masing
daerah. Misalnya perkeliran gaya sala berbeda dengan gaya yogya. Berbeda pula dengan gaya
banyumas, tegal, jawa timur, dll. Mungkin hal ini pula sangkut-pautnya dengan falsafah hidup dalam masyarakat
itu sendiri-sendiri. |
Maka dari itu uraian tentang pakem atau wewaton
tehnik perkeliran, pada kesempatan ini kami batasi dengan hanya mengemukakan wewaton tehnik
perkeliran menurut seni pedalangan gaya Yogyakarta.
Pergelaran seni pedalangan gaya Yogyakarta yang
diperkelirkan semalam suntuk itu, pada dasarnya terbagi dalam 3 bagian yang besar, ialah:
1.
Permulaan pergelaran dengan “pathet lasem” yang sering juga disebut “pathet nem”.
2.
Lalu disusul dengan “pathet sanga” ; dan
3.
Kemudian dengan “pathet manura” , yang pada akhir pathet mayura ini disebut “galong”
(pada waktu fajar menyingsing).
WEWATON-WEWATON PADA TIAP-TIAP BAGIAN (PATHET)
Pertama : Dalam “pathet lasem” harus ada dua
jejeran (adegan) dan dua peparangan yang diiringi dengan gending-gending pathet lasem. Jejeran
pertama diiringi gending karawitan. Jejeran kedua gending iringannya tidak ditentukan, sehingga Ki
dalang bebas memilih gending apa yang dipakai sebagai iringan, tetapi haruslah gending-gending
“pathet nem”.
Kiranya perlu diketahui pula, bahwa adegan
“Gupitmandragini” (kedatonan) dan adegan paseban-njawi adalah rangkaian dari pada jejeran.
Dua adegan perang dalam bagian permulaan disebut
‘perang ampyak” dan “perang simpangan”. Perang ampyak menggambarkan rampongan meratakan
jalan, dipergelarkan pada akhir jejeran pertama. Sedangkan perang simpangan ialah peperangan setelah
jejeran yang kedua.
Apabila pada jejeran pertama ada tamu, yang
kemudian berperang, perang ini disebut “perang kembang”. Kalau ada perang kembang, perang ampyak
harus ditiadakan. Jadi dalam pathet lasem tetap hanya ada dua macam perang.
Kemudian pada akhir pathet lasem ada jejeran lagi
ialah jejeran yang ketiga. Jejeran yang ketiga ini diiringi gending-gending pathet lasem yang yang
bersifat peralihan. Misalnya gending “bondet” atau gending-gending lain yang “ber-gong jangga
dan lima”. Sebab setelah gending suwuk, Ki dalang harus lagon pathet sanga. Jejeran yang ketiga
ini disusul dengan adegan perang yang disebut “perang gagal”.
Mulai dari perang kembang sampai dengan perang
gagal itu, menurut wewaton tidak diperbolehkan ada peranan yang mati. Disamping itu dalam pathet
lasem juga tidak diperbolehkan adanya “gladangan” (adegan yang tidak diiringi gending).
Kedua : Dalam “pathet sanga”, setelah suwuk
gending peralihan, bagian pertama (pathet lasem) telah selesai, maka pergelaran menginjak bagian
yang kedua ialah “pathet sanga”. Dan perang gagal itu kemudian disambung dengan “gara-gara”.
Dalam pathet sanga ini harus ada dua jejeran dan
dua adegan perang yang diiringi dengan gending pathet sanga, kemudian gending pathet sanga yang
bersifat peralihan ke pathet manyura. Kedua jejeran tersebut yang pertama : merupakan jejeran yang
keempat dari pada pergelaran seluruhnya, sedang jejeran yang kedua: yang diiringi dengan gending
pathet sanga peralihan merupakan jejeran yang kelima. Adapun gending-gending pathet sanga peralihan
ialah gending “renyep” dlsb yang ber-“gong jangga”.
Jejeran keempat tersebut diperkelirkan setelah
gara-gara dengan iringan gending yang tidak ditentukan. Ki dalang bebas memilih gending untuk
mengiringi adegan ini. Adapun dua adegan perang dalam pathet sanga itu ialah “perang gagal”
seperti tersebut diatas dan “perang begal” yang dipergelarkan setelah jejeran yang keempat. Di
dalam pergelkaran perang begal ini baru boleh ada yang mati. Dan setelah perang begal ini Ki dalang
boleh mempergelarkan adegan dengan “gladagan”. Setelah perang begal, lalu disambung dengan
jejeran yang kelima seperti tersebut diatas.
Ketiga : dalam “pethet mayura” ada dua jejeran
dan tiga adegan perang ialah jejeran yang keenam dan ketujuh serta adegan perang yang kelima, keenam
dan ketujuh dari pergelaran keseluruhannya. Ketiga adegan perang tersebut disebut “perang tanggung”,
“perang tandang” dan “perang ageng”. Perang tanggung itu dipergelarkan setelah jejeran yang
kelima. Jadi perang ini merupakan awalan dari pathet mayura. Sedangkan perang yang keenam ialah
perang tandang, dipergelarkan setelah jejeran yang keenam. Adapun perang yang ketujuh dan terakhir,
yang disebut perang ageng itu, dipergelarkan pada akhiran pathet mayura yang disebut “galong”.
Jadi wewaton tehnik perkeliran seni pendalangan
semalam suntuk gaya Yogyakarta itu pada dasarnya terbagi menjadi 3 bagian yang ada pergelarannya
terdiri dari 7 jejeran dan 7 adegan perang.
MAKNA DARI KIASANNYA
Pada hakekatnya wewaton tehnik pakeliran seni
pedalangan yang demikian itu, tidak hanya sekedar membuat wewaton, akan tetapi wewaton tersebut
mengandung arti yang lebih dalam lagi yaitu merupakan kias atau saloka yang mengandung mitologi jawa
yang luhur itu adapun keterangannya demikian dasar terbagi tiga itu, mengandung maksud
“triwikrama” yang artinya melangkah tiga kali : purwa, madya dan wasana/metu, manten, mati.
Triwikrama mengandung pengertian kehidupan manusia di dunia, yang mengalami 3 masa : masa
kanak-kanak, masa dewasa dan masa tua lalu kemudian wafat mitos tersebut mayakini benar-benar bahwa
yang disebut mati itu sebenarnya hanya peristiwa berpisahnya badan halus dan kasar/raga dan sukma -
jasmani dan rohani (roh) dalam mitos tersebut yang berfaham hindu surga itu ada 9 tingkatan untuk
itu pagelaran seni pedalangan sering terdengar kata-kata “swarga tunda sanga” sedangkan surga
tingkat kesembilan disebut “mokswa”
Sukma dari orang yang meninggal apabila dalam
keadaan suci, pertama-tama masuk ke dalam surga tingkat pertama, untuk melanjutkan ke tingkat surga
kedua sukma tersebut harus mengalami lahir lagi di dunia dan harus ditingkatkan lagi kesuciaannya
dari pada wadah hidup yang pertama, dalam istilah Jawa disebut “ Tumimba Lahir “ / Reincaratie .
Dalam paham ini manusia tentu mempunyai keinginan
untuk mencapai surga ke tingkat kesembilan yang disebut Muksa tadi, untuk diperlukan “ Tumimba
Lahir “ sampai tujuh kali lagi. ( dalam sumber buku pewayangan sering kita jumpai kata-kata “
Manjanmo Kaping Pitu “ demikianlah wewaton jejeran tujuh kali dan adegan perang tujuh kali menurut
pegelaran seni pedalaman gaya Yogyakarta merupakan perlambang Tumimba Lahir tujuh kali, untuk
mendaptkan kesuciaan yang sempurna lalu muksa.