Kerajaan MATARAM
Islam
Pada abad ke-16, sebelum
Belanda menjajah Hindia Belanda, Nusantara terdiri atas beberapa kerajaan yang saling bersaing yang
pada waktu tidak bersamaan menguasai Pulau Jawa. Kerajaan Jawa yang besar dan terakhir, dikenal
dengan nama Mataram II, didirikan pada tahun 1587 oleh Pangeran Senopati. Pada puncak kejayaannnya,
pengaruh kerajaan ini tidak saja tersebar ke luar Jawa tetapi sampai ke daerah yang sekarang bernama
Malaysia.
Penobatan Pakubuwono I,
yang disusul oleh serangkaian perang perebutan kekuasaan akhirnya berkat bantuan Belanda berlanjut
dengan dinobatkannya cucu Pakubuwono I menjadi Pakubuwono II. Daerah Pakubuwono II di Kartasura
kemudian di serang oleh sainganya raja dari Pulau Madura, sebuah pulau yang terletak disebelah
pantai timur Laut Jawa. Sebagai balasan atas bantuan yang diberikan oleh Belanda dalam menahan
serangan ini. Pakubuwono II dipaksa memberikan bagian penting dari wilayah kekuasaan kepada
pemerintah kolonial Belanda. Akibatnya, pada tahun 1745, Pakubuwono II pindah dan membangun istana
baru di Surakarta, yang bernama Surakarta Hadiningrat, kraton utama di Solo.
Perebutan kekuasaan di
dinasti Mataram terjadi lagi, kali ini, antara Pakubuwono II dan saudara tirinya Pangeran Mangubumi.
Ketika Pakubuwono II digantikan putranya, Pakubuwono III, Mangkubumi juga mengangkat dirinya sebagai
raja dan mendirikan pemerintahan tandingan di Yogyakarta. Karena kekuasaan Pangeran Mangkubumi
bertambah besar, Belanda turun tangan menengahi pertikaian itu dengan jalan mengadakan Perjanjian
Gijanti. Isinya, kerajaan Mataram dibagi menjadi dua wilayah, yaitu Kesunanan Surakarta dibawah
pimpinan Pakubuwono III dan Kesultanan Yogyakarta dibawah Mangkubumi yang bergelar Hamengkubuwono I.
Perjanjian Gijanti ditandatangani oleh kedua raja ini pada tahun 1755 dan pada tahun yang sama
konstruksi kraton utama Yogyakarta, Ngayogyakarta Hadiningrat dibangun oleh Hamengkubuwono I.
Pemberontakan kesunanan di
Surakarta masih belum berakhir. Raden Mas said, seorang pangeran lainnya yang merasa tidak puas,
memisahkan diri dari kraton dan atas restu Sunan mendirikan kerajaan yang merdeka di Surakarta. Dengan
gelar Mangkunegoro I, Raden Mas Said menjadi pemimpin kerajaan kedua di Surakarta dan pada tahun
1757 ia membangun istananya sendiri bernama Puro Mangunegaran.
Perpecahan terakhir pada kerajaan Mataram terjadi dalam tahun
1813, yaitu pada masa pemerintahan Inggris di Hindia Belanda, yang hanya berlangsung selama empat
tahun. Seperti apa yang telah dilakukan Belanda, Gubernur Inggris Thomas Stamford Raffles
memanfaatkan pertikaian politik lainnya, yang kali ini terjadi di Kraton Yogyakarta, dengan cara
mendukung berdirinya kerajaan lain yang merdeka di dalam kerajaan Yogyakarta. Pangeran Natakusuma,
paman Hamengkubuwono III yang berkuasa, pada waktu itu dinyatakan sebagai kepala pemerintahan baru,
yang berpusat di istana yang dibangun pada tahun 1813, yang letaknya hanya beberapa kilometer dari
Kraton Yogyakarta. Pangeran Natakusuma memakai gelar Paku Alam I dan kratonnya dinamakan Puro
Pakualaman.
PUSAT ALAM SEMESTA
Masyarakat Jawa percaya bahwa kekuasaan para pemimimpin
dinasti Jawa merupakan anugerah dari Tuhan. Raja dianggap sebagai pemimpin spiritual, politik dan
sosial di kalangan masyarakat Jawa, sedangkang kraton sebagai pusat simbolok dan fisik alam semesta.
Kehidupan setiap orang Jawa, dari kalangan petani sampai kalangan bangsawan aristokrat, diatur dan
diawasi oleh hak istimewa raja. Sejak didirikannya istana Yogyakarta dan Surakarta, masyarakat Jawa
secara keseluruhan dianggap sebagai perluasan lingkungan kraton.
Gaya arsitektur dan tata letak keempat kraton didasari oleh
prinsip yang berakar pada kosmologi hindu Jawa. Gunung yang keramat dan pusat alam semesta
dilambangkan dengan pendopo (balai pertemuan) dan taman dalem. Rangkaian Bangunan dan halaman yang
terpencar dari pusat melambangkan daratan dan lautan. Berbagai bangunan dipisahkan oleh dinding yang
tinggi dan pintu gerbang simbolis yang bukan saja menjadi lambang perbedaan tingkat dalam sistem
kosmologi, tetapijuga berfungsi sebagai penjaga yang memiliki kekuatan fisik dan batin. Pintu
gerbang utara yang berada di dua kraton utama menghadap ke gunung tempat tinggal para dewa,
sedangkan pintu gerbang selatan menghadap ke laut, kediaman mistik nenek moyang.
Dewi Laut Selatan, Nyai Loro Kidul, yang menurut legenda
berdiam di sebuah kerajaan di dasar Samudera Hindia, telah lama menjalin hubungan yang erat dengan
kerajaan Jawa. Kedudukan sebagai raja secara tradisional dianugerahkan oleh Nyai Loro Kidul,
sedangkan izin dan restunya menjadi prasyarat untuk membangun sebuah kraton.
Keempat kraton tersebut mempunyai bentuk ciri arsitektur yang
sama seperti yang tampak pada pendopo, Dalem Keputren, Kesantrian, yang semuanya menjadi Dalem
kraton. Di sekeliling Taman Dalem dibangun kantor, kandang kuda, tempat tinggal para abdi dalem,
bengkel kerja, dan pemukiman para bangsawan yang kurang dikenal beserta keluarga mereka. Seluruh
kompleks ini dikelilingi oleh dinding tembok yang kokoh bagaikan benteng yang melindungi kedua
kraton utama, yang jika dilihat dari dalam seperti “kota tertutup”.
Pada saat Indonesia merdeka
pada tahun 1945, kesultanan Jawa menyerahkan kekuasaan polotiknya kepada pemerintah republik di
Jakarta. Tanggung jawab dan beban mempertahankan keamanan dilepaskan, agar dapat lebih memusatkan
perhatian kepada kekayaan dan kehidupan di dalam kraton, yaitu berupa masyarakat dan benda-benda
kraton yang ditata secara estetis guna pengembangan seni dan upacara kerajaan. Para seniman dan
pengrajin yang secara tradisional mendapatkan pengayoman dari kraton diberi kedudukan yang lebih
terhormat, sedangkan seni wayang, tari, musik, sastra, dan kerajinan tangan tradisional diperhalus
dan diperindah. Dalam batas tembok masing-masing masyarakat keempat kraton ini mengembangkan ciri
khas tersendiri, misalnya yang telihat pada perbedaan busana, gaya pertunjukan, benda seni
artifisial, upacara-upacara kerajaan yang terperinci.
Walaupun kekuasaan dalam
bidang politik berkurang, pengaruh kraton dalam tradisi dan budaya jawa tetap kuat serta berlangsung sampai
sekarang. Pulau Jawa adalah pulau terpadat penduduknya di Indonesia dan kebudayaan historis
merupakan kebudayaan yang paling berpengaruh terhadap masyarakat Indonesia. Sampai sekarangpun dalam
lubuk sanubari masyarakat Indonesia tradisi kraton masih dihormati. Warga yang sekarang tinggal
dikeempat kraton itu merupakan turunan langsung dari Panembahan Senopati, pendiri dinasti Mataram. Di
alam lingkungan tembok kraton ketaatan ritual dan
upacra kerajaan tetap dilaksanakan untuk menghormati kebiasaan dan tata cara tradisi Jawa yang terus
hidup berabad-abad lamanya.