Pada
umumnya orang jawa yang mempunyai hajat “ mantu “ (mengawainkan anaknya), dibagian muka rumahnya
di pasang “ tarub “: yaitu tertata dihias dengan janur kuning, daun kelapa muda yang berwarna
kuning. Meskipun “ Mantu “ tidak dirumahnya sendiri misalnya di gedung pertemuan dsb, hiasan ini
pun dilaksanakan pula.
Dimuka
pintu masuk sebelah kanan dan kiri didirikan pohon pisang suluhan ( sebagaian buahnya sudah masak )
atau pisang tuwuhan ( lengkap dengan akar, batang, daun dan buahnya )
|
Dahan kapas dengan bunga dan buahnya Padi seuntai Dahan beringin dengan daunnya Cengkir gading ( kelapa gading
muda )
|
Tebu wulung ( hitam ) Daun apa-apa Pisang raja talun masak di pohon ( suluh )
|
Pada
waktu pengantin dipertemukan satu dengan lainnya, diadakan upacara :
-Uncal-uncalan gantal (lempar-lemparan secarik sirih);
-Wisuhan (membersihkan kaki pengantin lelaki dengan air oleh pengantin perempuan);
-Menginjak telor (oleh pengantin lelaki);
-Kacar-kucur (pengantin lelaki menumpahkan kantong berisi beras, kacang, kedelai, dan
sebagainya diterima oleh pengantin perempuan);
-Ditimbang (oleh ayah pengantin putri diatas pangkuannya);
-Suap-menyuap nasi
Tatacara tersebut mengandung maksud yang diwujudkan
dengan lambang-lambang diatas yang masing-masing mempunyai arti sebagai berikut :
Dahan kapas dengan daun dan buahnya melambangkan : sandang
(1.busana, kawi). Maksudnya :
didalam hidup suami istri dan keliarga wajib berusaha mencukupi sandang (pakaian)
Padi seuntai melambangkan pangan
(2.beksana, kawi) maksudnya orang bersuami istri juga wajib
berusaha mencukupi pangannya.
Dhan beringin dengan daunnya melambangkan papan
(3.sasono, kawi) tempat yang teduh, nyaman,
menyenangka, ayem tentrem. Maksudnya orang bersuami istri wajib mengusahakan papan, tempat untuk
tinggal
Keterangan :
Lambang angka 1, 2 dan 3 tersebut diatas dapat dimaknakan, bahwa
pengantin berdua kemudian harus sanggup menyelenggarakan rumah tangga yang kokoh dengan memenuhi syarat mutlak ialah menciptakan
Trisana yakni :1. Busana; 2. Baksana; 3. Sasana.
-Kelapa muda kuning (cengkir gading) itu dimaksud sebagai ringkasan
yang lengkapnya berbunyi : Kencengging pikir (kemauan teguh) kepada keelokan dan keindahan seperti
keindahan cengkir kelapa gading.
-Tebu wulung juga dimaksudkan sebagai ringkasan yang lengkapnya
berbunyi : antebing kalbu (kesungguhan hati) hatinya murni, bulat satu tujuan, hitam satu warna,
tidak terpecik pikiran yang lain.
-Daun apa-apa bermaksud sebagai puji doa, mudah-mudahan hajat mantu
ini selamat tidak ada apa-apa , tiada suatu halangan apapun.
Pisang tuwuhan berupa pisang raja talun masak dipohon, jelasnya
demikian: ada bermacam-macam pisang: kluthuk, pulut, mas, becici, raja. Yang
paling baik adalah pisang raja. Pisang Raja pun bermacam-macam: raja kusta, raja
sewu nagri, raja talun. Yang paling baik adalah raja talun, pisang raja talun pun bermacam-macam :
pisang raja talun mentah, masak karena diimbu (disimpan untuk memasakkan), disemprong (agar supaya
lekas tampak warna kuning sebagai tanda sudah masak), korepen (rusak), yang palin baik adalah raja
talun yang masak dipohon (suluh).
Adapun maksudnya adalah sebagai lambang, bahwa maksud dari bersuami
istri yang hakiki, yang murni dan luhur ialah : agar supaya “Ngudi ambabar tuwuh” (berusaha agar
dapat melahirkan benih) yang utama, terpilih dan terpuji, yaitu yang sangat baik seperti baik dan
terpilihnya pisang raja talun yang utuh dan masak dipohon. Pada hakekatnya “melahirkan benih utama”
itu suatu hal yang amat sukar sekali, terutama mengingat bahwa soal itu, soal benih atau biji
ditangan Ilahita’ala. Sukar sekali mencapai maksud itu, namun dapat diusahakan dengan
syarat-syarat usaha sebagai berikut:
Keterangan
Pertanda yang diberikan oleh Allah kepada manusia
kadang-kadang berupa :
Pertanyaan
: melahirkan benih (ambabar tuwuh) yang utama itu benih yang bagaimanakah ?
Jawab
: Tuo, benih atau turun yang utama berupa anak perempuan atau laki-laki yang dapat memenuhi
“tridarma bakti” didunia, yaitu 3 macam kewajiban sebagai berikut:
Manusia diciptakan didunia ini sebagai mahluk moral, artinya
memiliki kesusilaan. Manusia susila wajib berbakti kepada Allah dengan : beriman atau tauhit kepada
ALLAH.yang berarti mejalankan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya.selantnya berserah
diri pada Nya secara total.
Manusia dititahkan sebagai mahluk individual, perorangan, diwajibkan
berusaha sekuat tenaga, budi dan daya, sehingga dapat memenuhi hukum hidup bahagia dengan 4 dasar,
yaitu:
Manusia dititahkan didunia sebagai mahluk sosial, artinya: menyadari bahwa ia hidup bersama
dengan banyak orang. Manusia sosial wajib bergotong-royong, tolong menolong, rukun, berbuat baik
kepada sesama manusia demi keselamatan bersama.
ARTI
BERBAGAI UPACARA DALAM BERTEMUNYA PENGANTIN
Berbagai
upacara pada waktu bertemunya Pengantin perempuan dan lelaki seperti tersebut diatas mempunyai arti
sebagai berikut :
Uncal-uncalan gantal (lempar-lemparan batu)
.
Makna lambang Wisuhan
Menurut
tradisi kuna waktu pengantin laki-laki datang, pengantin wanita harus menjemputnya diambang pintu,
dibarengi dengan perbuatan tanda hormat dan bakti ialah : ia bersembah, lalu berjongkok untuk
membasuh kaki sang suami dengan air bunga setanam. Upacara ini sekarang diganti dengan saling berjabat tangan sebagai tanda saling mencintai dan
menghormati.
Pengantin lelaki menginjak telor sampai pecah
Maksudnya, bahwa pengantin lelaki harus dengan tepat dapat memecahkan telor pengantin puteri
sehingga berhasil menurunkan benih, mendapatkan keturunan yang baik.
Kacar-kucur
Pengantin lelaki menumpahkan kantong berisi beras, kedele, kacang, uang, dan sebaginya
diterima oleh pengantin perempuan dengan tikar kecil sederhana diatas pangkuannya yang disangga
dengan dua belah tangannya sesudah menjadi kosong, oleh pengantin lelaki kantong dikebutkan sebagai
bukti bahwa semuanya sudah ditumpahkan kepada pengantin perempuan maksudnya : sang suami
berkewajiban memberikan penghasilan, rezeki berupa apa saja kepada sang istri, sang istri dalam
menerima rezeki dari suaminya diharapkan hidup cermat dan berhemat.
Pengantin perempuan dan lelaki duduk diatas pangkuan ayah pengantin
perempuan seolah-olah sang ayah menimbangnya
Sang
ibu pengantin perempuan bertanya : “berat manakah Pak ?:”
Jawabnya “sama-sama beratnya sudah seimbang”.
Maksudnya : calon pengantin hendaklah masing-masing menjaga keseimbangan dalam mengarungi
kehidupannya kelak.
Saling menyuapi
Pengantin perempuan menyuapi sang lelaki demikian sebaliknya, maksudnya bersuami istri
hendaknya rukun, akrab lahir batin saling menerima apa adanya, untuk itu dalam bahasa Jawa bojo (istri)
diganti menjadi Jodo (jodoh), mencari istri (bojo) lebih gampang ketimbang mencari jodo (jodoh)
Dalam
falsafah Jawa :
|
Kewajiban suami Hangayani (memberi rejeki) Hangomahi ( memberi rumah) Hangayemi (membikin tenteram, ayem) Hangayomi (melindungi) Hangatmajani (memberi keturunan jiwa mulia)
|
Kewajiban istri Gemi-nastiti (hemat cermat) Ngati-ati (hati-hati) Reti-surti (siap-teliti) Ngrukti (memelihara) Setya-bekti (setia berbakti)
|
|
UPACARA PENGANTIN ADAT JAWA A. KRONOLOGIS Kronologis ketemu jodoh pada orang Jawa dahulu ,biasanya melalui cara yang disebut : 1. Babat alas artinya membuka hutan untuk merintis membuat lahan. Dalam hal babat alas ini orangtua pemuda merintis seorang congkok untuk mengetahui apakah si gadis sudah mempunyai calon atau belum. Istilah umumnya disebut nakokake artinya menanyakan 2.
Kalau sang pemuda belum
kenal dengan sang gadis, maka adanya upacara nontoni Yaitu
sang pemuda diajak keluarganya datang ke rumah sang gadis,
pada saat pemuda 3.
Bila cocok artinya saling setuju, kemudian disusul dengan upacara nglamar
atau meminang. Dalam upacara nglamar,
keluarga pihak sang pemuda menyerahkan barang kepada pihak sang gadis sebagai peningset
yang terdiri dari pakaian lengkap, dalam bahasa Jawanya sandangan
sapangadek. 4.
Menjelang hari perkawinan diadakan upacara srah-srahan
atau asok tukon
yaitu pihak calon pengantin putra menyerahkan sejumlah hadiah perkawinan kepada keluarga pihak calon pengantin putri berupa hasil bumi, alat-alat rumah tangga, ternak dan kadang-kadang ditambah sejumlah uang. 5. Kira-kira 7 hari (dulu 40 hari) sebelum hari pernikahan calon pengantin putri dipingit artinya tidak boleh keluar dari rumah dan tidak boleh bertemu dengan calon suaminya. Selama masa pingitan calon pengantin putri membersihkan diri dengan mandi kramas dan badannya diberi lulur. 6.
Sehari atau dua hari sebelum upacara akad nikah di rumah orangtua calon
pengantin putri membuat tratag dan menghias rumah.
Kesibukan tersebut biasanya
juga dinamakan upacara pasang
tarub 7.
Upacara siraman
yaitu memandikan calon pengantin putri dengan kembang telon yaitu bunga mawar, melati dan kenanga dan selanjutnya disusul dengan
upacara ngerik.
Upacara ngerik yaitu membersihkan bulu-bulu rambut yang terdapat di dahi, kuduk, tengkuk dan di
pipi. 8.
Setelah upacara ngerik, maka pada malam hari diadakan upacara malam
Midodareni. Calon pengantin putra datang ke rumah pengantin putri dan 9.
Pada pagi harinya atau sore harinya dilangsungkan upacara ijab kabul yaitu meresmikan kedua insan antara
pria dan wanita yang memadu kasih telah sah menjadi suami istri. 10.
Sehabis upacara ijab kabul dilangsungkan
upacara panggih atau temon yaitu pengantin
putra dan pengantin putri ditemukan yang berakhir duduk bersanding di
pelaminan. 11.
Lima hari setelah akad nikah dan upacara panggih diadakan upacara sepasaran
B. RANGKAIAN UPACARA ADAT PENGANTIN JAWA Rangkaian
upacara adat pengantin Jawa secara kronologis diuraikan dari awal sampai akhir sebagai berikut
: 1.
Upacara siraman pengantin putra-putri 2.
Upacara malam midodareni 3.
Upacara akad nikah / ijab kabul 4.
Upacara panggih / temu 5.
Upacara resepsi 6.
Upacara sesudah pernikahan Makna
rangkaian upacara tersebut secara perinci dapat dijelaskan sebagai berikut : 1.
Upacara Siraman Pengantin Putra-putri
Upacara siraman ini dilangsungkan sehari sebelum akad
nikah (ijab kabul). Akad
nikah dilangsungkan secara/menurut agama masing-masing dan
hal ini tidak
mempengaruhi
jalannya upacara adat. Langkah-langkah yang perlu diperhatikan
pada upacara siraman
adalah : a)
Siraman Pengantin Putri ·
Pengantin
putri pada upacara siraman sebaiknya mengenakan kain dengan motif
Grompol yang dirangkapi dengan kain mori putih bersih sepanjang dua meter dan pengantin
putri rambutnya terurai. ·
Yang
bertugas menyiram pengantin putri adalah :
Bapak dan Ibu pengantin putri, disusul Bapak dan Ibu
pengantin putra, b) Siraman Pengantin Putra Urut-urutan upacara siraman pengantin putra adalah sama seperti sirama pengantin putri hanya yang menyiram pertama adalah Bapak pengantin putra. Setelah upacara siraman pengantin selesai, maka pengantin putra ke tempat pemondokan yang tidak jauh dari tempat kediaman pengantin putri. Dalam hal ini pengantin putra belum diizinkan tinggal serumah dengan pengantin putri. Sedangkan pengantin putri setelah siraman berganti busana dengan busana kerik, yaitu pengantin putri akan dipotong rambut bagian depan pada dahi secara merata. 2.
Upacara Midodareni
Dalam upacara midodareni pengantin putri mengenakan busana polos artinya Pada malam midodareni pengantin putri tetap di dalam kamar pengantin dan setelah pukul 24:00 baru diperbolehkan tidur. Pada malam midodareni ini para tamu biasanya berpasangan suami istri. Keadaan malam midodareni harus cukup tenang dan suasana khidmat, tidajk terdengar percakapan-percakapan yang terlalu keras. Para tamu bercakap-cakap dengan tamu lain yang berdekatan saja. Pada pukul 22:00 - 24:00 para tamu diberikan hidangan makan dan sedapat mungkin nasi dengan lauk-pauk opor ayam dan telur ayam kampung, ditambah dengan lalapan daun kemangi. Perlengkapan yang diperlukan untuk upacara panggih : 1) Empat sindur untuk dipakai oleh kedua belah orang tua 2) Empat meter kain mori putih yang dibagi menjadi dua bagian masing-masing dua meter 3) Dua lembar tikar yang akan dipergunakan untuk duduk pengantin putri pada waktu di rias 4) Dua buah kendhi untuk siraman pengantin putra-putri 5) Dua butir kelapa gading yang masih utuh dan masih pada tangkainya 6) Sebutir telur ayam kampung yang masih mentah dan baru 7) Sebungkus bunga setaman 8) Satu buah baskom / pengaron yang telah ada air serta gayungnya untuk upacara membasuh kaki pengantin putra 9) Dua helai kain sindur dengan bentuk segi empat digunakan pada upacara tanpa kaya atau kantongan yang terbuat dari kain apa saja. 10) Daham klimah yaitu upacara makan bersama-sama (dulangan) atau suap-suapan pengantin putri menyuapi pengantin putra dan sebaliknya 11) Dahar klimah, pada upacara dahar klimah makanan yang perlu disiapkan adalah : nasi kuning ditaburi bawang merah yang telah digoreng dan opor ayam. Pada upacara tanpa kaya yang perlu disediakan ialah : kantongan yang berisi uang logam, beras, kacang tanah, kacang hijau, kedelai, jagung dan lain-lain. 3. Upacara Akad Nikah Upacara akad nikah dilaksanakan menurut agamanya masing-masing. Dalam hal ini tidak mempengaruhi jalannya upacara selanjutnya. Bagi pemeluk agama Islam akad nikah dapat dilangsungkan di masjid atau mendatangkan Penghulu. Setelah akad nikah diberikan petunjuk sebagai berikut : Setelah upacara akad nikah selesai,pengantin putra tetap menunggu di luar untuk upacara selanjutnya. Yang perlu mendapatkan perhatian ialah selama upacara akad nikah pengantin putra boleh mengenakan keris (keris harus dicabut terlebih dahulu) dan kain yang dopakai oleh kedua pengantin tidak boleh bermotif hewan begitu pula blangkon yang dipakai pengantin putra. Bagi pemeluk agama Katholik atau Kristen akad nikah dilangsungkan di gereja. Untuk pemeluk agama Katholik dinamakan menerima Sakramen Ijab, baik agama Islam maupun Katholik atau Kristen pelaksanaan akad nikah harus didahulukan dan setelah selesai Ijab Kabul barulah upacara adat dapat dilangsungkan. 4. Upacara Panggih Bagian I Upacara balangan sedah / lempar sirih yaitu pengantin putra dan pengantin putri saling melempar sirih, setelah itu disusul dengan berjabat tangan tanda saling mengenal. Bagian II
Upacara Wiji
Dadi Sebelum pengantin putra menginjak telur, pengantin putri membasuh terlebih dahulu kedua kaki pengantin putra. Bagian III Upacara sindur binayang yaitu pasangan pengantin berjalan dibelakang ayah pengantin putri, sedangkan ibu pengantin putri dibelakangnya pengantin tersebut. Hal ini mempunyai makna Bapak selalu membimbing putra-putrinya menuju kebahagiaan, sedangkan Ibu memberikan dorongan “tut wuri handayani” Bagian IV Timbang (Pangkon) dan disusul upacara tanem Upacara tanem yaitu Bapak pengantin putri mempersilahkan duduk kedua pengantin di pelaminan yang bermakna bahwa Bapak telah merestui dan mengesahkan kedua pengantin menjadi suami istri. Bagian V Upacara tukar kalpika yang disebut juga tukar cincin yaitu memindahkan dari jari manis kiri ke jari manis kanan dan dilaksanakan saling memindahkan. Hal ini mempunyai makna bahwa suami istri telah memadu kasih sayang untuk mencapai hidup bahagia sepanjang hidup. Bagian VI
Kacar-kucur (tanpa kaya) Upacara kacar-kucur atau disebut guna kaya yang bermakna bahwa hasil jerih payah sang suami diperuntukkan kepada sang istri untuk kebutuhan keluarga. Bagian VII
Kembul Dhahar “ Sekul Walimah “ Upacara kembul dhahar yaitu kedua pengantin saling suap-suapan secara lahap. Hal ini bermakna bahwa hasil jerih payah dan rejeki yang diterimanya adalah berkat Rahmat Tuhan dan untuk mencukupi keluarganya. Segala suka dan duka harus dipikul bersama-sama. Bagian VIII Pengantin putra dengan sabar menunggu pengantin putri menghabiskan Dhaharan.Biasanya Ibu lebih sayang untuk membuang makanan. Hal ini bermakna agar Tuhan selalu memberikan rezeki dan selalu mensyukuri rezeki yang diterimanya. Bagian IX
Upacara
Mertuwi Bapak dan Ibu pengantin putra datang dijemput oleh Bapak dan Ibu pengantin putri untuk menjenguk pengesahan perkawinan putrinya. Setelah dipersilahkan duduk oleh Bapak dan Ibu pengantin putri lalu dilangsungkan upacara sungkeman. Apabila Ayah atau Bapak pengantin putra telah meninggal dunia, maka sebagai gantinya yaitu kakak pengantin putra atau pamannya. Bagian X Upacara Sungkeman Upacara sungkeman / Ngebekten yaitu kedua pengantin berlutut untuk menyembah kepada Bapak dan Ibu dari kedua pengantin. Dalam hal ini bermakna bahwa kedua pengantin tetap berbakti kepada Bapak / Ibu pengantin, serta mohon doa restu agar Tuhan selalu memberikan rahmatnya. ARTI
ISTILAH DAN MAKNANYA 1.
TARUB Kata benda yang menunjukan pengertian dari satu “ bangunan darurat “ yang khusus didirikan pada dan di sekitar rumah orang yang mempunyai hajat menyelenggarakan peralatan perkawinan / Ngunduh Temanten, dengan tujuan rasional dan irrasional. Rasional : Membuat tambahan ruang untuk tempat duduk tamu dan lain-lainnya Irrasional : Karena pembuatan tarub menurut adat harus disertai dengan macam macam persyaratan khas yang disebut srana-srana / sesaji, maka yang demikian itu mempunyai tujuan “ keselamatan lahir batin “ dalam memangku-kerja-perkawinan itu dalam arti luas Adapun Srana Tarub yang pokok disebut tuwuhan dengan maksud supaya berkembang di segala bidang bagi kedua mempelai terdiri dari : a) Sepasang pohon pisang-raja yang berbuah, maknanya secara singkat adalah : · Agar mempelai kelak menjadi pimpinan yang baik bagi keluarganya/ lingkungannya/bangsanya · Seperti pohon pisang dapat tumbuh dan hidup di mana saja maka diharapkan bahwa mempelai berdua pun dapat hidup dan menyesuaikan diri di lingkungan mana pun juga dan berhasil (berubah) b) Sepasang Tebu Wulung Tebu : antipening kalbu = tekad yang bulat Wulung : mulus = matang Maknanya, dari mempelai diharapkan agar segala sesuatu yang sudah dipikir matang-matang dikerjakan/dilaksanakan dengan tekad yang bulat, pantang mundur (“mulat sarira hangrasawani”) c) Dua janjang kelapa gading yang masih muda Kelapa gading : Kelapa yang kulitnya kuning Kelapa muda : cengkir Maknanya, kencengin pikir = kemauan yang keras Dari mempelai diharapkan agar memiliki “kemauan yang keras” untuk dapat mencapai tujuan d) Daun : beringin Daun : Maja Daun : Koro Daun : Andong Daun : Alang-alang Daun : Apa-apa (daun dadap srep)
Maknanya, diharapkan dari mempelai kelak dapat tumbuh
seperti pohon beringin, menjadi pengayom lingkungannya dan agar
semuanya dapat berjalan dengan selamat sentosa lahir batin (aja
ana-sekoro-koro kalis alangan sawiji apa) 2.
SRANA/SESAJI TARUB Menunjukkan pengertian baik kata benda maupun kata kerja, yang berarti membuat/mempersiapkan semua persyaratan barang-barang baik yang berujud (materiil) maupun yang tidak berujud (spirituil) yang diperlukan untuk pelengkap syarat pembuatan tarub sesuai dan menurut kepercayaan dan pengertian tradisi/adat. 3.
NGUNDUH ATAU NGUNDUH TEMANTEN Kata-kata Ngunduh = memetik yang dilakukan khusus oleh orang tua dari mempelai lelaki, yang berarti mendatangkan mempelai berdua di rumah orang tua mempelai lelaki, biasanya setelah 5 hari anaknya lelaki itu berada di rumah mertuanya sejak hari dilangsungkan perkawinannya, untuk secara bergantian dirayakan di rumah orang tuanya sendiri (orang tua mempelai lelaki) dengan maksud untuk memperkenalkan mempelai kepada keluarganya dan handai taulan. 4.
SRANA NGUNDUH Idem dengan No.2 di atas, untuk ucapan “ Ngunduh Tematen “ 5.
PETANEN ATAU KROBONGAN Kata
benda petanen atau krobongan yakni kamar tengah dari dalem = bangunan rumah yang dibelakang.
Bangunan rumah yang didepan namanya Pendapa Kamar tengah yang disebut petanen ini biasanya selalu dihiasi atau bahasa Jawa di robyong. Tempat yang dirobyong itu lalu disebut Krobongan . Petanen atau juga disebut krobongan ini adalah kamar yang disediakan untuk DEWI SRI yaitu dewinya pertanian (Jawa = petanen) Dalam upacara perkawinan, maka setelah temu atau panggih, kedua mempelai lalu duduk di muka petanen ini. Disitulah dilakukan ucapan-ucapan kelanjutannya, misalnya: nimbang, kacar-kucur atau sungkem dan lain-lainnya. Sesuai dengan perkembangannya sekarang krobongan disebut pelaminan yang bentuknya disesuaikan dengan situasi dan kondisi. 6.
KEMBAR MAYANG Terdiri dari 2 kata, Kembar : dua benda yang sama bentuknya dan ukurannya Mayang : bunga pohon pinang Jadi artinya, sepasang benda yang dirangkai dalam bentuk tertentu dengan bunga pinang guna keperluan mempelai. Akan tetapi arti sebenarnya dimaksudkan disini melambangkan suatu “pohon hayat” dalam bentuk sekaligus berfungsi sebagai dekorasi. 7.
TEMANTEN ATAU PENGANTIN Artinya Mempelai 8.
PRABOT TEMANTEN Segala sesuatu yang perlu bagi seorang temanten, terutama sekali mengenai pakaian tradisional temanten menurut adat 9.
“ PINISEPUH “ PUTRI Dalam
arti sempit : Ahli waris wanita yang dekat hubungannya dengan keluarga dan yang kedudukannya dalam lingkungan keluarga itu lebih tua dari sang mempelai, misalnya : · Dari garis lurus ke atas (adscendenten) Ibu, nenek putri, eyang buyut dan seterusnya · Dari garis samping Kakak perempuan, bibi (tante, oudtante) dan seterusnya. Dalam
arti luas : Yang disebut di atas + wanita-wanita lain yang tua usianya dan sangat akrab hubungannya dengan keluarga yang bersangkutan (bahasa Jawa disebut Kewula-keraga) 10.“
PINISEPUH “ KAKUNG Idem dengan No.9 diatas tetapi untuk pengertian lelaki 11.NGANTHI Kata kerja Nganthi berarti membimbing fisik = mendampingi dan memegangi tangan dari sang mempelai 12.SINDUR Semacam selendang yang warnanya merah bertepikan putih, melambangkan persatuan dari unsur bapak dan unsur ibu. Sindur ini dalam upacara perkawinan : a) Dipakai sebagai ikat pinggang oleh orang tua (bapak dan ibu) yang menyelenggarakan peralatan mantu. b) Dipakai sebagai salah satu sarana dalam upacara perkawinan yaitu setelah mempelai bergandengan tangan (Jawa : kanthen) berjalan menuju ke tempat duduk pengantin, maka salah seorang pinisepuh putri (biasanya ibunda mempelai) mengikuti berjalan dekat di belakang mempelai berdua sambil menyelimutkan sehelai sindur sebagai lambang persatu paduan jiwa raga suami istri yang abadi. Sindur diartikan kependekan dari sin = isin/malu, Ndur = mundur (malu untuk mundur) Bahwa tujuan perkawinan antara lain adalah untuk meneruskan kehidupan generasi melalui pembangunan keluarga sejahtera. Segala rintangan/hambatan tidak akan melemahkan keyakinan dirinya terhadap apa yang harus diperjuangkan dalam usaha membangun suatu keluarga sejahtera, terlebih-lebih dengan disertai do’a restu orang tua kedua pengantin, maka apapun yang akan dihadapinya akan terus diperjuangkan sampai terwujudnya harapan serta cita-citanya tersebut. 13.NGABAKTEN
/ SUNGKEM Suatu kewajiban moral tradisional bagi sang mempelai untuk secara fisik menunjukkan/menyatakan bakti dan hormatnya lahir batin kepada orang tua dan para pinisepuhnya dengan gerakan tertentu, seraya mohon do’a restu dan mendapat ridho dari Tuhan agar selalu mendapatkan bimbingan dan petunjuk di dalam membangun keluarga dan berguna bagi Nusa dan Bangsa. Pada saat akan sungkem kedua pengantin melepas selop dan keris yang dikenakan pengantin pria. Hal ini dimaksudkan bahwa kedua mempelai dengan sepenuh hati telah siap akan bersujud kepada orang tua pengantin dan pinisepuh 14.GANTI
BUSANA Upacara mempelai untuk sementara waktu meninggalkan tempat duduknya berjalan menuju kamar rias untuk ganti pakaian dengan diiringi oleh beberapa orang pinisepuh, saudara-saudaranya (laki-laki dan perempuan) dan lain-lain anggota keluarga terdekat yang ditunjuk. 15.BESAN Sebutan yang dipakai untuk menunjukkan hubungan kekeluargaan antara orang tua dari mempelai lelaki dan orang tua dari mempelai wanita. 16.MERTUA Sebutan yang dipakai untuk menunjukkan hubungan kekeluargaan bagi mempelai lelaki terhadap orang tua dari mempelai wanita dan bagi mempelai wanita terhadap orang tua dari mempelai lelaki (parent in laws) 17.AMONG
TAMU Tugas khusus untuk menerima dan mengantar para tamu ke tempat duduknya, menurut ketentuan protokol. 18.GAMELAN Seperangkat (unit dari salah satu macam alat-musik Indonesia) disiapkan untuk lebih menyemarakkan suasana 19.KERIS Suatu benda semacam senjata-tajam yang mempunyai bentuk khusus dan dianggap keramat berfungsi antara lain sebagai salah satu perabot dari pada pakaian kebesaran secara adat Jawa. 20.PAKAIAN
SIKEPAN CEKAK / ALIT Salah satu model pakaian pengantin yang dipakai setelah kembali dari ganti menuju ketempat duduknya. Model ini yang biasa digunakan oleh para pangeran saat upacara2 kebesaran. 21. DIJEJERKAN Diatur
agar mempelai berdua berdiri berjajar. 22.
PAMITAN Para tamu mohon diri kepada orang tua kedua mempelai untuk pulang kembali ke tempat masing2. 23.
NANDUR Gerakan dari orang tua laki-laki untuk mendudukan kedua pengantin di pelaminan dengan menekankan tangan di pundak pengantin pria dan wanita yang dapat diartikan bahwa setiap orang tua dengan kasih sayangnya tetap akan selalu memberikan petunjuk2 dan pengarahan yang benar dengan harapan hendaknya segala sesuatu yang dilaksanakan selalu didasari budi yang baik dan luhur. Nandur = menanam Dimaksukdkan bahwa akan tumbuh hidup subur dan dari kesuburan tersebut dihasilkan buah yang bagus dan berguna. 24.IMBAL
WICARA Dialog/percakapan yang dilaksanakan pada saat serah terima kedua pengantin dari orang tua pengantin putri kepada orang tua pengantin putra 25.
BOMBYOK KERIS / KOLONG KERIS Suatu kelengkapan busana kebesaran bagi pengantin yang terdiri dari untaian / rangkaian bunga dan mawar dengan warna putih dan merah yang artinya sama dengan arti sindur 26.
OMBYONG Sebutan bagi rombongan pengiring pengantin yang biasanya terdiri dari para keluarga terdekat pengantin pria/wanita yang telah ditentukan 27.
NGARAK
TEMANTEN Kata kerja “ngarak” berarti membimbing secara bersama-sama dalam bentuk rombongan 28.
MENGAPIT Dapat diartikan mendampingi di sebelah kanan dan kiri yang dapat dilakukan dalam posisi duduk, berdiri atau berjalan 29.
BUCALAN
= BUANGAN Kata benda dari sesaji yang akan ditempatkan / dibuang di tempat-tempat tertentu (route perjalanan dan kompleks penyajiannya telah diuraikan di depan / skenario) Kata kerja dari pelaksanaan penyajian sesaji bucalan gecok mentah dengan maksud mengharapkan partisipasi dari para bahu rekso (makhluk yang tidak kelihatan) maupun yang kelihatan, untuk menjaga jalan-jalan yang akan dilalui pengantin dan juga ditempat-tempat yang akan dipakai tempat upacara/perhelatan dan diminta supaya tidak mengganggu pengantin sekalian, beserta orang tuanya, keluarganya, pengiringnya, tamu-tamunya, para panitia dan pembantunya dan lain-lain. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa memberikan hajat Ngunduh Temanten tersebut selamat hingga upacara selesai dengan paripurna khususnya kepada pengantin sekalian diberikan rakhmat, sejahtera dan bahagia lahir batin 30.
SIRAMAN Menunjukkan pengertian kata benda dari kata “siram” yang berarti suatu perbuatan tradisional mandi bagi setiap orang calon mempelai wanita maupun pria menjelang akad nikah. Untuk keperluan ini diperlukan pula syarat-syarat atau sesaji-sesaji yang disebut “sirna siraman” yang ujudnya sesuai dengan uraian pada skenario. Upacara siraman (mandi mempelai) ini dipimpin dan dilakukan/dibantu oleh para ahli waris terdekat yang sudah tua usianya baik dari garis bapak maupun dari garis ibu (sesuai masyarakat adat yang bersifat ke bapak ibuan = perenteel) 31.
PAES Menunjukkan kata benda dari kata kerja maesi, yang berarti merias dahi calon mempelai wanita oleh seorang wanita ahli dalam tugas ini, agar wajah si calon mempelai wanita terlihat lebih cantik lagi mirip gambaran wajah seorang bidadari. 32.
KEMBANG
SETAMAN Beberapa macam bunga yang dicampur satu dalam sebuah tempat/wadah yang berisi air tawar Upacara Resepsi Resepsi ialah pertemuan atau jamuan yang diadakan untuk menerima tamu pada pesta perkawinan, pelantikan dan lain sebagainya. Resepsi pesta perkawinan dapat dilaksanakan di rumah sendiri ataupun di gedung pertemuan. Dikota-kota besar terutama seperti di Jakarta resepsi-resepsi perkawinan dilangsungkan di gedung-gedung pertemuan. Hal ini sehubungan dengan rumah sendiri tidak dapat menampung para tamu yang berdatangan, disamping rumahnya sendiri sempit dan tidak mempunyai halaman secara luas. Cara pelaksanaan resepsi baik di rumah maupun di gedung selanjutnya dapat diatur sebagai berikut : Resepsi
diirumah Resepsi di rumah dapat diselenggarakan beberapa saat setelah upacara adat selesai. Dalam resepsi ini dapat diadakan pengambilan foto-foto bersama keluarga dan rekan-rekan pengantin sekalian. Setelah selesai pengambilan foto tersebut kemudian masih diteruskan “upacara kirab”. Sementara para tamu menikmati hidangan yang tersedia, Kirab Pengantin ialah pengantin putra dan putri diarak-arak masuk ke kamar pengantin untuk berganti pakaian / busana dari busana kebesaran berganti busana “kasatrian”. Pada upacara kirab tersebut didahului dengan seorang sebagai penunjuk jalan yang biasa disebut Cucuking Lampah atau Canthang Balung. Cucuking Lampah hanya berjalan biasa sesuai dengan irama gending yang mengiringi, sedangkan Canthang Balung diselingi dengan menari. Iring-iringan pada waktu kirab ialah : 1. Paling depan adalah cucuking lampah / canthang balung / subamanggala 2. Dua orang perjaka yang disebut Satria Kembang dan biasanya diambil dari adik pengantin putri atau putra atau keluarga terdekat |
Sebelum
acara perkawinan dimulai ada acara budaya sesaji secara tradisional yaitu :
1.
Sesaji
Bucalan
yang terdiri dari :
A.
“
Rasulan Jangkep “ (rasulan lengkap)
yang terdiri dari :
-
Nasi
gurih dengan lauknya yaitu ingkung ayam jantan
-
Lalapan
-
Rambak
(krecek/krupuk kulit)
-
Kedelai
hitam
-
Pisang
raja dua sisir yang sudah ranum dan masih utuh
-
Kembang
boreh
-
Kemenyan
dan madu
Catatan
:
Selamatan
ini khusus ditujukan kepada para Rasul Allah dan Nabi
B.
“
Asahan Jangkep “ (asahan lengkap)
yang terdiri dari :
-
Nasi
putih dengan lauknya bermacam-macam
-
Ketan
kolak dan apem
Catatan :
Selamatan
ini khusus ditujukan kepada leluhur dari kedua calon pengantin
yang telah
mendiang.
C.
“ Tumpengan Sega Janganan “ ( nasi urapan)D.
Jajan Pasar E
Kembang SetamanF.Tumpeng
Robyong
Catatan :
Selamatan
yang tersebut pada C, D, E dan F dari atas khusus ditujukan
kepada
Saudara yang mendampingi kedua calon pengantin pada waktu lahir.
(Jawa :
Kakang kawah, adi ari-ari : “meruhi sedulur sing lair barang sedino”)
bahasa Indonesia, memberitahukan kepada Saudara yang lahir
bersamaan
harinya.
G.
“
Golong Jangkep “ (Nasi golong lengkap) terdiri
dari :
-
Nasi
dengan lauk pecel ayam
-
Sayur
menir (bahasa Jawa : pecel, pitik, jangan menir)
Catatan
:
Selamatan
ini ditujukan kepada cikal bakal yang menjaga bumi, sebagai
tanda
pemberitahuan bahwa kita akan mencangkul di beberapa tempat
untuk
memasang tarub.
H.
“
Pisang Sanggan “
terdiri dari :
-
Pisang
raja dua sisir yang sudah ranum ( hampir matang)
-
Gula
kelapa dua sisir (satu tangkep)
-
Kelapa
utuh satu biji
-
Beras
-
Kinang
Jangkep
-
Kembang
wangi yaitu bunga melati, mawar, kenanga atau kanthil
Catatan :
Pisang ini
melambangkan kegotongroyongan dari semua sanak saudara,
handai
taulan sehingga akan mempermudah dan memperlancar jalannya
upacara
adat