Karaton Kasunanan Surakarta
Karaton Surakarta
adalah sebuah warisan budaya Jawa. Wujudnya berupa fisik bangunan Karaton, benda artefak, seni
budaya, dan adat tata cara Karaton. Keberadaannya yang sekarang ini adalah hasil dari proses
perjalanan yang panjang, dan merupakan terminal akhir dari perjalanan budaya Karaton Surakarta.
Usaha memahami keadaannya
yang sekarang tidak bisa lepas dari usaha mempelajari asal usul dan keberadaanya di masa lampau.
Sebab sepenggal cerita dan deskripsi sejarah suatu peristiwa kurang memberi makna yang berarti,
jikalau tidak dikaitkan dengan proses dan peristiwa yang lain. Oleh karena itu peristiwa-peristiwa
yang terjadi dalam satu alur yang sama akan memberikan pemahaman yang menyeluruh dan utuh dari
situasi yang sama saat ini.
Dalam kajian sejarah
Karaton Surakarta akan ditelusuri dan dideskripsikan latar belakang dan proses menemukan lokasi
Karaton, pemindahannya, pembangunannya serta perkembangannya baik dari segi fisik bangunan maupun
segi nonfisik. Deskripsi historis berdasarkan sumber informan, dokumen-dokumen karya sastra dan
sebagainya diharapkan memberikan pengetahuan yang lebih mendalam tentang Karaton Surakarta. Dari
pengetahuan ini orang/masyarakat akan tumbuh kesadaran akan warisan budaya tersebut dan memiliki
persepsi tertentu terhadap obyek tersebut.
Sebelumnya perlu dijelaskan
mengenai pengertian Karaton. Menurut KRHT Wirodiningrat (Kantor Sasono Wilopo), ada tujuh pengertian
(saptawedha) yang tercakup dalam istilah Karaton. Pertama, Karaton (Karaton) berarti kerajaan. Kedua,
Karaton berarti kekuasaan raja yang mengandung dua aspek: kenegaraan (Staatsrechtelijk) dan
magischreligieus. Ketiga, Karaton berarti penjelmaan “Wahyu nurbuwat” dan oleh karena itu
menjadi pepunden dalam Kajawen. Keempat, Karaton berarti istana, kedaton “Dhatulaya” (rumah).
Kelima, bentuk bangunan Karaton yang unik dan khas mengandung makna simbolik yang tinggi, yang
menggambarkan perjalanan jiwa ke arah kesempurnaan. Keenam, Karaton sebagai Cultuur historische
instelling (lembaga sejarah kebudayaan) menjadi sumber dan pemancar kebudayaan. Ketujuh, Karaton
sebagai Badan (juridische instellingen), artinya Karaton mempunyai barang-barang hak milik atau
wilayah kekuasaan (bezittingen) sebagai sebuah dinasti.
B.
Proses Penemuan Lokasi Karaton
Baik dalam Babad Tanah
Jawi (1941), Babad Kartasura Pacinan (1940), maupun dalam Babad Giyanti (1916, I), kisah perpindahan
Karaton dari Kartasura ke Surakarta hampir sama deskripsinya. Secara ringkas kisahnya sebagai
berikut.
Ketika Sunan Paku Buwana II
(1726 – 1749) kembali dari Ponorogo (1742), baginda menyaksikan kehancuran bangunan istana. Hampir
seluruh bangunan rusak berat, bahkan banyak yang rata dengan tanah akibat ulah para pemberontak Cina.
Bagi Sunan, keadaan tersebut mendorong niatnya untuk membangun sebuah istana yang baru, sebab istana
Kartasura sudah tidak layak lagi sebagai tempat raja dan pusat kerajaan. Niat ini kemudian
disampaikan kepada para punggawa kerajaan. Patih R. Ad. Pringgalaya dan beberapa bangsawan diajak
berembug tentang rencana pembangunan istana baru tersebut. Raja berkehendak membangun istana baru di
tempat yang baru. Raja menghendaki, istana yang baru itu berada di sebelah timur
istana lama, dekat dengan Bengawan Sala. Hal ini dilakukan di samping untuk menjahui pengaruh para
pemberontak yang mungkin masih bersembunyi di kartasura, juga untuk menghapus kenangan buruk
kehancuran istana Kartasura.
Setelah diadakan pembicaraan seperlunya tentang rencana Sunan
tersebut, akhirnya Sunan mengutus utusan yang terdiri dari ahli negara, pujangga dan ahli kebatinan
untuk mencari tempat yang cocok bagi pembangunan istana baru. Para utusan tersebut diberi wewenang
dan kekeuasaan untuk bersama-sama mencari dan memilih tempat yang cocok untuk istana batu, baik
sacara lahiriah maupun batiniah. Utusan itu terdiri dari Mayor Hohendorp, Adipati Pringgalaya, dan
Adipati Sindurejo (masing-masing sebagai Patih Jawi’Patih Luar’ dan Patih Lebet ‘Patih Dalam’),
serta beberapa orang bupati. Utusan itu diikuti oleh Abdi Dalem ahli nujum, Kyai T. Hanggawangsa, RT
Mangkuyuda, dan RT Puspanegara. Setelah berjalan lama, mereka mendapatkan tiga tempat yang dianggap
cocok untuk dibangun istana. Ketiga
tempat itu adalah:
Setelah diadakan
permusyawaratan, para utusan akhirnya memilih desa Sala sebagai calon tunggal untuk tempat
pembangunan istana baru, dan keputusan ini kemudian disampaikan kepada Sunan di Kartasura. Setelah
Sunan menerima laporan dari para utusan tersebut, kemudian memerintahkan beberapa orang Abdi Dalem
untuk meninjau dan memastikan tempat itu. Utusan itu
ialah Panembahan Wijil, Abdi Dalem Suranata, Kyai Ageng Khalifah Buyut, Mas Pangulu Fakih Ibrahim,
dan Pujangga istana RT. Tirtawiguna (Tus Pajang, 1940:19-21). Sesampainya di desa Sala, utusan
tersebut menemukan suatu tempat yang tanahnya berbau harum, maka disebut desa Talangwangi (tala =
tanah; wangi = harum), terletak di sebelah barat laut desa Sala (sekarang menjadi kampung Gremet).
Setelah tempat tersebut diukur untuk calon lokasi istana, ternyata kurang luas, maka selanjutnya
para utusan melakukan “samadhi” (bertapa) untuk memperoleh ilham (“wisik”) tentang cocok
atau tidaknya tempat tersebut dijadikan pusat istana. Mereka kemudian bertapa di Kedhung Kol (termasuk
kampung Yasadipuran sekarang).
Setelah beberapa hari
bertapa, mereka memperoleh ilham bahwa desa Sala sudah ditakdirkan oleh Tuhan menjadi pusat kerajaan
baru yang besar dan bertahan lama (Praja agung kang langgeng). Ilham tersebut selanjutnya
memberitahukan agar para utusan menemukan Kyai Gede Sala (sesepuh desa Sala). Orang itulah yang
mengetahui ‘sejarah’ dan cikal bakal desa Sala . Perlu diketahui, bahwa nama Kyai Gede Sala
berbeda dengan Bekel Ki Gede Sala, seorang bekel yang menepalai desa Sala pada jman Pajang. Sedang
Kyai Gede Sala adalah orang yang mengepalai desa Sala pada jaman kerajaan Mataram Kartasura (Pawarti
Surakarta, 1939:6-7).
Selanjutnya Kyai Gede Sala
menceritakan tentang desa Sala sebagai berikut. Ketika jaman Pajang, salah seorang putera Tumenggung
Mayang, Abdi Dalem kerajaan Pajang, bernama Raden Pabelan, dibunuh di dalam istana, sebaba ketahuan
bermain asmara dengan puteri Sekar Kedaton atau Ratu Hemas, puteri Sultan Hadiwijaya, raja Pajang (Atmodarminto,
1955:83;Almanak Cahya Mataram, 1921:53;Dirjosubrata, 1928: 75-76). Selanjutnya mayat raden Pabelan
dihanyutkan (“dilarung”) di sungai Lawiyan (sungai Braja), hanyut dan akhirnya terdampar di
pinggir sungai dekat desa Sala. Bekel Kyai Sala yang saat itu sebagai penguasa desa Sala, pagi hari
ketika ia pergi kesungai melihat mayat. Kemudian mayat itu didorong ke tengah sungai agar hanyut.
Memang benar, mayat itu hanyut dibawa arus air sungai Braja. Pagi berikutnya, kyai Gede Sala sangat
heran karena kembali menemukan mayat tersebut sudah di tempatnya semula. Sekali lagi mayat itu
dihanyutkan ke sungai. Namun anehnya, pagi berikutnya peristiwa sebelumnya berulang lagi. Mayat itu
kembali ke tempat semula, sehingga Kyai Gede Sala menjadi sangat heran. Akhirnya ia “maneges”,
minta petunjuk Tuhan Yang Maha Kuasa atas peristiwa itu. Setelah tiga hari tiga malam bertapa, Kyai
Gede Sala mendapat ilham atau petunjuk. Ketika sedang bertapa, seakan-akan ia bermimpi bertemu
dengan seorang pemuda gagah. Pemuda itu mengatakan, bahwa dialah yang menjadi mayat itu dan mohon
dengan hormat kepada Kyai Gede Sala agar dia dikuburkan di situ. Namun sayang, sebelum sempat
menanyakan tempat asal dan namanya,pemuda itu telah raib/menghilang. Akhirnya Kyai Gede Sala
menuruti permintaan pemuda tersebut, dan mayatnya dimakamkan di dekat desa Sala. Karena namanya
tidak diketahui, maka mayat itu desebut Kyai Bathang (bathang = mayat). Sedangkan tempat makamnya
disebut Bathangan (makam itu sekarang berada di kawasan Beteng Plaza, Kelurahan Kedung Lumbu).
Dengan adanya Kyai Bathang itu, desa Sala semakin raharja (Sala = raharja_, kehidupan rakyatnya
serba kecukupan dan tenang tenteram (Roorda, 1901:861).
Demikian cerita singkat
Kyai Gede Sala. Kuburan itu terletak di tepi rawa yang dalam dan lebar. Keadaan ini kemudian oleh
para utusan dilapokan kepada Sunan di Kartasura.
Sesudah Sunan Paku Buwana
II menerima laporan, maka segera memerintahkan kepada Kyai Tohjaya dan Kyai Yasadipura (I), serta
RT. Padmagara, untuk mengupayakan agar desa Sala dapat dibangun istana baru. Ketigautusan tersebut
kemudian pergi ke desa Sala. Sesampainya di desa Sala, mereka berjalan mengelilingi rawa-rawa yang
ada disekeliling desa Sala. Akhirnya mereka dapat menemukan sumber Tirta Amerta Kamandanu (air
kehidupan, sumber mata air). Hal itu dilaporkan kepada Sunan, dan kemudian Sunan memutuskan bahwa
desa Sala-lah yang akan dijadikan pusat istana baru. Sunan segera memerintahkan agar pembangunan
istana segera dimulai. Atas perintah Sunan, seluruh Abdi Dalem dan Sentana dalem membagi tugas: Abdi
Dalem mancanegara Wetan dan Kilen dimintai balok-balok kayu, jumlahnya tergantung pada luas
wilayahnya. Balok-balok kayu tersebut selanjutnya dimasukkan ke dalam rawa di desa Sala sampai penuh.
Meskipun demikian belum dapat menyumbat mata air rawa tersebut, bahkan airnya semakin deras.
Sanadyan kelebetana sela
utawi balok ingkang ageng-ageng ngantos pinten-pinten ewu, meksa mboten saget pampet, malah toya
saya ageng ambalaber pindha samodra.(Tus Pajang, 1940:24-25).
(Walaupun diberi batu
ataupun balok-balik kayu yang besar-besar sampai beribu-ribu banyaknya, terpaksa tidak dapat
tertutup, bahkan keluarnya air semakin besar dan menyeruap bagaikan samodra).
Bahkan lebih
mengherankan lagi, dari sumber air tersebut keluar berbagai jenis ikan yang biasa hidup di air laut
(teri pethek, dsb). Menyaksikan kejadian itu, Panembahan Wijil dan Kyai Yasadipura bertapa selama
tujuh hari tujuh malam tanpa makan dan tidur. Akhirnya pada malam hari Anggara Kasih (Selasa Kliwon)
Kyai Yasadipura mendapatkan ilham sebagai berikut:
He kang padha mangun
pujabrata, wruhanira, telenging rawa iki ora bisa pampet amarga dadi tembusaning samodra kidul.
Ewadene yen sira ngudi pampete, kang dadi saranane, tambaken Gong Kyai Sekar Dlima godhong lumbu,
lawan sirah tledhek, cendhol mata uwong, ing kono bisa pampet ponang teleng. Ananging ing tembe
kedhung nora mili nora pampet, langgeng toyanya tan kena pinampet ing salawas-lawase (Pawarti
Surakarta, 1939:7).
(Hai, kalian yang bertapa,
ketahuilah, bahwa pusat rawa ini tidak dapat ditutup, sebab menjadi tembusannya Lautan Selatan.
Namun demikian bila kalian ingin menyumbatnya gunakan cara: gunakan Gong Kyai Sekar Delima, daun
lumbu (talas), dan kepala ronggeng, cendol mata orang, disitulah pasti berhenti keluarnya mata air.
Akan tetapi besok kenghung itu tidak akan mengalir, tetapi juga tidak berhenti mengeluarkan air,
kekal tidak dapat disumbat selama-lamanya).
Penerimaan ilham tersebut
terjadi pada hari Anggara Kasih (Selasa Kliwon) tanggal 28 Sapar, Jimawal 1669 (1743 Masehi)
(Yasadipura II, 1916: 17-18). Segala kejadian tersebut kemudian dilaporkan kepada Sunan di
Kartasura. Sunan sangat kagum mendengar laporan tersebut dan setelah berpikir keras akhirnya Sunan
bersabda:
Tledhek iku tegese ringgit
saleksa. Dene Gong Sekar Dlima tegese gangsa, lambe iku tegese uni. Dadi watake bebasan kerasan.
Gong Sekar Delima, dadi sekaring lathi, ingkang anggambaraken mula bukane nguni iku Kyai Gede Sala.
Saka panimbang iku udanegarane kabener anampi sesirah tledhek arta kehe saleksa ringgit (cendhol
mata uwonng), mangka liruning kang dadi wulu wetuning desa tekan ing sarawa-rawa pisan (Pawarti
Surakarta, 1939:8).
“Tledhek” berarti
sepuluh ribu ringgit. Gong Sekar Delima berarti “gangsa”, bibir atau ujar (perkataan). Jadi
bersifat perumpamaan. Gong Sekar Delima menjadi buah bibir yang menggambarkan asal mula/cikal bakal
(desa) yaitu Kyai Gede Sala. Atas pertimbangan itu sepantasnya menerima ganti uang sebanyak sepuluh
ribu ringgit. Sebagai ganti rugi penghasilan desa beserta rawa-rawanya.
Demikian akhirnya Kyai Gede
Sala memperoleh ganti rugi sebesar sepuluh ribu ringgit (saleksa ringgit) dari Sunan. Selanjutnya
Kyai Gede Sala bertapa di makam Kyai Bathang. Di dalam bertapa itu Kyai Gede Sala memperoleh
“Sekar Delima Seta” (putih) dan daun lumbu (sejenis daun talas). Kedua barang tersebut
dimasukkan ke dalam sumber mata air (Tirta Amerta Kamandanu). Sesudah itu dilakukan kerja bhakti
(gugur gunung) menutup rawa. Akhirnya pekerjaan itu selesai dengan cepat. Penghuninya dipindahkan
dan dimukimkan kembali di tempat lain (“wong cilik ing desa Sala kinen ngalih marang ing desa Iyan
sami”). Kemudian pembangunan dimulai dengan menguruk tanah yang tidak rata dan dibuat gambar awal
dengan mengukur panjang dan lebarnya (“ingkur amba dawane”). Puluhan ribu (leksan) buruh bekerja
di proyek pembangunan itu. Dinding-dinding pertama dibangun dari bambu karena waktunya mendesak.
Adapun desain umumnya mencontoh model Karaton Kartasura (“anelad Kartasura”) (Lombard, III:
109).
Mengapa pilihan jatuh di
desa Sala, ada beberapa alasan yang dapat diajukan, baik dilihat secara wadhag atau fisik-geografis
maupun alasan magis-religius. Desa Sala letaknya dekat dengan Bengawan Sala, yang sejak lama
mempunyai arti penting dalam hubungan sosial, ekonomi, politik, dan militer antara Jawa Tengah dan
Jawa Timur. Sebuah sumber menyebutkan, Bengawan Sala atau atau Bengawan Semanggi mempunyai 44 bandar
(Fery Charter abad ke-14), salah satunya bernama Wulayu atau Wuluyu atau sama dengan desa Semanggi
(bandar ke-44). Dalam Serat Wicara Keras disebutkan, Bengawan Sala sebagai Bengawannya orang
Semanggi (bandingkan dengan Babad Tanah Jawi). Alasan lainnya, di desa Sala cukup tenaga kerja untuk
membuat Karaton karena dikelilingi oleh desa Semanggi, Baturana, dan Babudan (dua desa yang terakhir
merupakan tempat Abdi Dalem pembuat babud permadani pada jaman Kartasura). Desa Sala sendiri zaman
Padjang dibawah bekel Kyai Sala. Alasan politis juga dapat dimasukkan, terutama dalam menjaga
kepentingan VOC. Untuk mengawasi Mataram maka VOC membangun benteng di pusat kota Mataram yang mudah
dijangkau dari Semarang sebagai pintu gerbang ke pedalaman.
Sementara itu terdapat
sejumlah alasan magis-religius seperti berikut ini. Pertama, desa Sala terletak di dekat tempuran,
yaitu bertemunya Sungai Pepe dan Bengawan Sala. Tempuran merupakan tempat magis dan sakral. Dismping
itu, kata Sala atau Qala dihubungkan dengan bangunan suci. Kata itu berarti ruangan atau bangsal
besar dan telah disebut-sebut dalam OJO no. XLIII (920) dengan istilah Kahyunan. Di Qala tedapat
sekolah Prahunan (sekarang kampung praon) di dekat muara Sungai Pepe, yang artinya bangunan suci di
Hemad (I Hemad atau Ing Hemad, Ing Gemad = Gremet). “Ning peken ri hemad”, artinya di pasar
ngGremet, tempat dilakukan upacara penyumpahan mendirikan tempat swatantra perdikan di Sala.
Pembangunan Karaton segera
dimulai setelah rawa-rawa berhasil dikeringkan dan tempatnya dibersihkan. Untuk mengurug Karaton,
tanahnya diambil dari desa Talawangi. (dalam sebuah sumber lain disebutkan, “hawit iku pada kalebu
hing jangka, sak mangsa-mangsa ndandani Kadaton bakal njupuk hurug lemah Kadipala (Tetedakan
sangking Buk Ha: Ga, Sana Pustaka). Jadi tanah Talawangi dan tanah Sala kedua-duanya dipakai untuk
pembangunan Karaton. Karaton telah berdiri meskipun belum dipagari batu dan baru dari bambu (jaro
bethek). Sirnaning Resi Rasa Tunggal (1670) menandai saat pengerjaan Karaton selesai, meskipun
nampak tergesa-gesa.
Kata Surakarta sendiri
lebih dicari akarnya pada kata atau kerajaan sebelumnya, Kartasura dan Kerta. Kartasura (Jaman
Amangkurat II) dulu bernama Wanakerta = berani berperang. Sedangkan Kerta atau Karta = tenteram,
pusat Mataram jaman kejayaannya. Jadi keturunan Mataram mengharapkan kejayaan dan ketentraman
kembali Mataram seperti ketika beribukota di Karta. Ada pendapat lain yang mengatakan, kata Sala
berasal dari desa ala, artinya desa yang jelek. Dan, Karta Sura artinya bukan Karta dan Sura, karena
fakta membuktikan bahwa Kartasura tidak banyak membawa kegahagiaan. Sedangkan kata Surakarta sering
kali juga dihubungkan dengan Batavia atau Jayakarta. Orang Jawa Barat menyebut bandar ini dengan
nama Surakarta. Untuk menghormati Kompeni, maka Sunan menamakan Karatonnya yang baru dengan
Surakarta (Hadiningrat).
Setelah tanah diratakan,
Sunan memerintahkan agar dilakukan pengukuran calon istana (kutha). Petugasnya adalah : Mayor
Hohendrop, Patih R. Ad. Pringgalaya, Kyai T. Puspanagara, Kyai T. Hanggawangsa, Kyai T. Mangkuyuda,
dan Kyai T. Tirtawiguna. Petugas pengukur calon istana ialah Panembahan Wijil dan Kyai Khalifah
Buyut. Pengukur “adu manis”-nya istana ialah Kyai Yasadipura dan Kyai Tohjaya. Untuk
mempertinggi pusat istana, maka mengambil tanah dari Talawangi, Kadipala dan Sanasewu. Para tukang
(abdi dalem Kalang) diperintahkan dan dikerahkan untuk membangun istana. Lurah Undhagi (tukang kayu)
dipimpin oleh Kyai Prabasena dibantu oleh Kyai Karyasana, Kyai Rajegpura, Kyai Sri Kuning, ditambah
tenaga dari mancanegara. Sebagai penanggungjawab adalah R. Ad. Pringgalaya dengan dibantu para
Bupati Jawi dan Lebet. Permulaan pembangunan itu ditandai dengan sengkalan “Jalma Sapta Amayang
Buwana = 1670 Jawa (1744 M)
C.
Prosesi Pemindahan Karaton dari Kartasura ke Surakarta
Pada suatu ketika RT.
Tirtawiguna di tanya oleh Sunan tentang persyaratan perpindahan pusat istana, maka RT. Tirtawiguna
memberi penjelasan sebagai berikut (Adeging Karaton tth:13):
Segala kegiatan perpindahan
tersebut seluruhnya selalu diakhiri dengan “bujana handrawina” (peta atau resepsi). Sunan
menerima persajian seluruhnya dan ditambah dengan “bumbu-bumbu masak atau racikan atau
rerajungan”. Selanjutnya diatas rencana perpindahan tersebut lebih dahulu barang-barang yang
dipindahkan adalah:
1.
beras dan padi
2.
perlengkapan dapur dengan segala macam
bumbu masak
3.
sato iwen (ayam, itik, dan sejenisnya)
4.
raja kaya (hewan ternak berkaki empat)
5.
perlengkapan-perlengkapan lain
Sedang jenis “sajen”
yang diadakan ialah: gecok kelapa, bekakak ikan, bumbu sekapur peyon atau robyongan: bunga sirih
lengkap, rokok boreh. Jenis tumpeng: megana, urubing damar, tatrah, rabah, rerajungan, rukini,
kelut, litut, gicing. Disamping masih ada sayuran, ikan, daging dan segala macam jenang : jenang
abang, putih, selaka, mangkur, kiringan, ngongrong, dodol, a lot, bakmi, bandeng, lemu kaleh,
kalong, jada, wajik, pudhak pondhoh, ketan manca warna atau pala kirna, pala gumantung, pala
kesimpar, pala kependhem, dan pala andheng. Kemudian berbagai macam telur, ayam, itik, burung, ikan
dan sebagainya. Berbagai macam benang, kain batik, selendang, kain kerik
dan masih banyak lagi jenis sajian lainnya. ( Pawarti Surakarta, 1939 : 10-11) Kemudian tiga
jenis emas, perak, binatang hidup.
Setelah semua persiapan
dirasa cukup lengkap, maka pada hari yang telah ditetapkan, Sunan beserta segenap Keluarga kaum
kerabat pindah tempat dari Kartasura ke desa Sala.
Mayor Hogendorp beserta
pasukannya berapa di depan sejumlah lima kompi. Perpindahan itu dilakukan pada hari Rabu
Pahing, 17 Sura, Sesengkalan “ Kambuling Puja Asyarsa ing Ratu “ ( 1670 Jawa = 1745 M atau
17 Februari 1745 ). Dalam Serat Kedhaton, disebutkan :
|
Sigra jengkar
saking Kartawani Ngalih kadhaton
mring dhusun sala Kebut sawadya
balane Busekan sapraja
gung Pinengetan hangkate
huni Hanuju hari Buda
henjing wancinipun Wimbaning lek ping
Sapta Wlas Sura He je
kombuling Pudya Kapyarsi Hing Nata kang
sangkala
|
Segera berangkat
dari Kartasura Pindah karaton di
dusun sala Semua bala prajurit Sibuk seluruh praja
Diperingati
berangkatnya dulu Bertepatan hari
Rabu pagi, Tanggal 17 Sura je Kombuling
Puja kapyarsa Ing Ratu
sengkalinya |
|
Raja dan Ratu tampil di
singgana ( sithinggil ) diiring semua penari perempuan ( Bedhaya Serimpi ) dan para pengikut. Mereka
disambut serentak oleh tembakan meriam, bunyi gamelan dan tiupan terompet. Lalu mereka mulai
berjalan dan sang pujangga mendiskripsikan dengan teliti urut-urutan panjang itu, yang secara
simbolis berarti “ mengankut Karaton sampai ke desa Sala “ ( ngalih kadhaton mring dhusun Sala
). Susunan barisan berikut ( Pawarti Surakarta 1939 :
16 – 21 ; Yasadipura II, 1916, 1 : 20 -21 )
1. Waringin
kurung sakembaran ( dua batang pohon beringin ) diberi kain cinde diapit oleh Abdi Dalem dari
desa-desa.
2. Bangsal
Pangwarit diiringi oleh Abdi Dalem Prajurit Kalang, Gowong, Undhagi, Selakerti.
3. Gajah
kenaikan Sunan, diapit oleh Abdi Dalem Srati.
4. Kuda
kenaikan Sunan diiringi oleh Abdi Dalem Gamel.
5. Para
Abdi Dalem Bupati Nayaka Jawi Kiwo dan Tengen: Panumping, Panekar, Sewu Numbak Anyar, Siti Ageng
Kiwo Tengen, Bumi, Bumija, diiringi oleh Abdi Dalem Kliwon, Panewu, Mantri, naik kuda dengan
berpayung.
6. Abdi
Dalem Bupati Anom Anon-Anon beserta Panewu, Mantrinya, terdiri dari: Abdi Dalem: kemasan, greji,
pandhe, sayang, gemblak (gembleg), puntu, samak, tukang laras, tukang warangka, tukang ukir, jlagra,
slembar, gupyuh, tukang cekathak, tukang pasppor, tukang landheyan (tempat tombak), undhagi, bubut,
kendhi, niyaga, badhut, dhalang, tukang sungging, tukang natah wayang, tukang cat, tukang prada,
tledhel, kebon dharat, mengiringi gamelan terdiri dari: Kyai Surak, Kyai Sekar Delima, Kyai Sekar
Gadhung, diberi payung kuning.
7. Selanjutnya
diikuti oleh tukang song-song (payung), tukang pasar, tukang tulup, tukang jemparing (panah), tukang
jungkat (sisir), teluk, gebyar, tukang musik, (batik), Patih Raden Adipati Pringgalaya dan Patih
Raden Adipati Sindureja disertai benda-benda upacara kepatihan.
8. Prajurit
Kompeni lima kompi dengan berkuda.
9. Benda-benda
upacara Kadipaten Anom diiringi oleh para Abdi Dalem Punakawan, emban, cethi, nyai. Kemudian Raden
Adipati Anom naik kuda, berpayung berjajar dengan Mayor Hagendrop, diiringi oleh Abdi Dalem
Kadipaten Anom dan ditutup oleh Pepatih dan Wedana Kadipaten: RT. Wirapraja.
10.
Abdi Dalem Prajurit Sarageni dan Sarantaka, disambung dengan bedhug dengan
diiringi Abdi Dalem Merbot, Penghulu, Khetib, Ulama, pradikan, berkuda dan berpayung. Disambung:
Cekal Kyai Baladewa dibawa oleh Abdi Dalem Kebayan lengkap.
11.
Para Sentana, Panji, Riya Pangeran, putra, berkuda, berpayung, ditutup oleh
Abdi Dalem Suranata, juru besarta anak buahnya.
12.
Para punakawan, Hurdenas, ponylompret Belanda, tombak milik Sunan, kiri kanan
mengapit benda-benda upacara kerajaan: banyak dhalang sawung galing dibawa oleh Abdi Dalem Gandhek
Mantri Anom, berpayung kuning. Disambung benda-benda pusaka kerajaan: bendhe (canang) Kyai Bicak.
Pembawanya naik kuda berpayung kuning. Disambung Abdi Dalem Gajah Mati dengan membawa Carak Kyai
Nakula Sadewa, cemeti milik raja, Kyai Pecut, Kemudian Raja diiringi oleh Abdi Dalem Keparak kIwa
Tengen dengan membawa benda-benda upacara Kerajaan. Kemudian para prajurut Tamtama, kiri kanan
masing-masing dua ratus orang prajurit. Disambung oleh Abdi Dalem Prajurit Mertalulut dan
Singanagara, membawa pusaka oleh Abdi Dalem Keparak Kiwa Tengen berjumlah empat pulih orang, berkuda
diiringi benda-benda upacara Kabupaten.
13.
Abdi Dalem Keputren: Nyai Tumenggung atau Nyai Lurah Keparak Jawi dan Lebet
naik tandu/kremun atau tandu kajang dan ada yang berkuda, beserta anak buah. Disambung para Wedana,
Panewu, Mantri, Kliwon beserta anak buah. Kemudian istri Patih Pringgalaya dan Patih Danurejo.
Disambung Abdi Dalem Bedaya Srimpi Manggung Ketanggung atau pembawa benda-benda upacara, para Ratu
serta para emban dan para Nyai. Kemudian Permaisuri Sunan diiringi oleh Abdi Dalem Gedhong Kiwa
Tengen empat orang, Abdi Dalem Kliwon, Panewu, Mantri Jajar. Disamping putera-puteri Sunan dan para
Selir (Priyatun Dalem), para istri Bupati Mancanagara, semua Keputren ini sebagian besar naik tandu,
kremunjoli atau jempana.
14.
Benda-benda pusaka Kerajaan, dimasukkan ke dalam gendhaga (bokor), serta
buku-buku Kerajaan dibawa oleh Abdi Dalem Keparak, diiringi oleh Abdi Dalem Kasepuhan, Bupati,
Kliwon, Panewu, Mantri, para prajurit dan para panahan.
15.
Para Abdi Dalem Perempuan, bekerja dapur beserta perlengkapan dapur, Abdi Dalem
Krapyak, dengan membawa beras, ayam, dan sato iwen lain, upeti para Adipati Mancanagara. Kemudian
Abdi Dalem Jajar beserta perlengkapan rumah tangga, Abdi Dalem Pamajegan membawa kayu bakar, arang,
sapit, sajen, tampah (niru), tebok, ancak, seruk (bakul), tumbu, sapu, godhong (daun), ethong,
lesung, lempong, alu ujon, kukusan, irus, solet, dan sejenis peralatan dapur lainnya. Kemudian
pusaka Dalem Dandang Kyai Dhudha, pusaka Panjang Kyai Blawong, Kendhil Kyai Marica, dijaga oleh Nyai
Gandarasa yang naik tandu, diiringi oleh Bupati Gading Mataram besarta anak buahnya. Kemudian
disambung oleh Galadhag Pacitan membawa batu, tempat minum harian milik Raja, Sela Gilang, teras
bagi Siti Hinggil Sela Gilang di Bangsal Pangrawit, Bangsal Manguntur Tangkil dan batu-batu
pasalatan (untuk sembahyang), padasan, para perdikan Mancanagara, mimbar, bedhug Masjid Besar Kyai
Rembeg. Semua benda-benda pusaka tersebut diberi payung kuning, diletakkan di atas gendhaga.
16.
Pohon beringin pukuran (yang ditanam di alun-alun Selatan/pukuran) diiringi
oleh Abdi Dalem Pancar Mancanagara.
17.
Abdi Dalem Dagang, sudagar, kriya, pangindung, blatik (pedagang kambing),
mudel, umbal, mranggi, pangukir, rakyat jelata Karaton Kartasura.
18.
Binatang ternak milik para putera sentana, para Bupati, Kliwon, Panewu Mantri
beserta anak buahnya.
19.
Abdi Dalem Pandhelegan, tukang mencari ikan, tukang baita (perahu), pambelah,
jurumudi, jagal (penyembelih hewan).
20.
Narindu milik Raja dijaga oleh Abdi Dalem Tuwa Baru dan Abdi Dalem Mancanegara
Kilen.
21.
Abdi Dalem Mancanagara wetan dan kulon, membawa pusaka meriam Nyai Setomi dan
meriam-meriam lainnya.
Yang turut di dalam
perpindahan tersebut kurang lebih ada 50 ribu orang (limang leksa). Didalam perjalanan tersebut
sangat lambat. Jarak antara istana Kartasura sampai desa Sala memakat waktu kurang tujuh jam. Jalan
yang dilalui, mula-mula merupakan jalan setapak melewati hutan dan semak belukar. Hutan dan semak
belukar itu ditebas untuk dijadikan jalan perpindahan. Jalan itu sekarang adalah jalan Pasar Klewer
ke barat terus sampai ke kartasura, melalui alun-alun Kerajaan Pajang, dan berangkat dari Alun-alun
Kartasura.
Setelah sampai di desa
Sala, segera diadakan pengaturan pembagian tempat. Smentara para “:Pandherek” masih berkumpul di
alun-alun. Setelah istirahat beberapa lama, diadakanlah upacara menghadap Raja (pasewakan agung).
Tempatnya di Tatag Rambat (sekarang pagelaran). Pada pasewakan agung itu bersabdalah Sunan Paku
Buwana II kepada segenap hadirin:
Heh kawulaningsun, kabeh
padha ana miyarsakna pangandikaningsun! Ingsun karsa ing mengko wiwit dina iki, desa ing Sala ingsun
pundhut jenenge, ingsun tetepake dadi negaraningsun, ingsun parigi jeneng Negara Surakarta
Hadiningrat. Sira padha angertekna sakawulaningsun satalatah ing Nusa Jawa kabeh.
(Pawarti Surakarta 1939 =
26).
(Hai hambaku, dengarkan
semuanya sabda saya. Saya berkeinginan sejak hari ini, desa di Sala saya ambil namanya, saya
tetapkan menjadi negara saya, saya beri nama negara Surakarta Hadiningrat. Kalian siarkanlah ke
seluruh rakyatku di seluruh wilayah Tanah Jawa seluruhnya).
Kemudian diadakan doa
syukur, dan diadakan penanaman pohon beringin kurung sakembaran di alun-alun utara (muka) dipimpin
oleh Patih Pringgalaya dan Patih Sindureja. Beringin itu diberi nama: sebelah Timur, Kyai Jayandaru
dan sebelah Barat, Kyai Dewandaru. Sedang pohon beringin kurung sekembaran yang ditanam di alun-alun
selatan (pungkuran, belakang) dilaksanakan oleh Bupati Mancanegara.
Setelah selesai diadakan
selamatan selesailah upacara perpindahan pusat kerajaan dari Kartasura ke Surakarta Hadiningrat.
Lama pembangunan bangunan Kompleks istana memakan waktu sekitar delapan bulan, sering dilakukan
kerja siang malam.
Selanjutnya selama lebih
kurang satu bulan warga kota baru itu diperkenankan menngadakan “bujana handrawina”, berpesta
pora di rumah masing-masing atau bersama-sama dengan para lurah (pemimpin) mereka.
Babad Giyanti
menambahkan:’segalanya telah berjalan dengan baik sebagaimana mestinya (satata amamangun) dan
biarpun tanah tidak rata, para pembesar bergegas membangun kediaman mereka yang baru dengan teratur
(samya atata wisma).
Dengan naskah itu, tampak
bahwa persyaratan nujum lebih penting dari pada topografi tanah. Di samping itu, istana ditetapkan
sebagai bagian utama. Kita juga diberitahu bahwa pemberkatan tanah itu hanya dapat dilakukan dengan
bantuan pelbagai benda keramat yang dialihkan dari Karaton terdahulu, yaitu keempat pohon waringin,
bangsal pangrawit-yang sangat keramat karena mengandung bongkah batu yang dianggap bekas singgasana
Hayam Wuruk (hal ini menjamin keterkaitannya dengan Majapahit)- seperti juga berbagai pusaka yang
merupakan jaminan bahwa wahyu benar-benar ada pada raja yang sedang memerintah.
Kediaman para bangsawan
menempati satu kawasan berisi empat yang luas, yang dikelilingi oleh tembok tinggi 3-6 meter, yang
dinamakan Baluwarti/benteng (dari bahasa Portugis baluarte), dan belum lama berselang oleh sebuah
parit (jagang). Ruang bertembok itu diantara dua alun-alun bujursangkar yang luas, alun-alun utara
dan selatan. Di Surakarta benteng itu berukuran 1000 x 1800 meter ; di Yogyakarta dinding itu
melingkari wilayah seluas 140 ha.
Setelah selesai masa
“bujana handrawina”, mulailah diadakan pengaturan tempat tinggal. Di pusat istana bertempat
tinggal Raja dengan keluarganya serta beberapa “priyatun dalem”. Di kompleks istana yaitu di
dalam Baluwarti ditempatkan para Pangeran Putra dan Abdi Dalem yang dekat dan selalu berhubungan
dengan kebutuhan harian istana, misalnya tukang masak (gandarasa), tukang tari (carangan), priyaga
pinter istana (Brajanala): perlengkapan istana (Gedhong dan Lumbung) dan sebagainya.
Sedangkan di luar tembok
istana ditempatkan kerabat raja (Hadiwijaya, Suryahamijaya), dan perlengkapan putera-puteri raja
(Karatonan, tulisan, kuplukan, dan sebagainya). Abdi Dalem Keparak Kiwa dan Tengen ditempatkan di
luar istana. Begitu pula benteng Belanda, rumah para pembesar Belanda. Sedangkan para prajurit
ditempatkan pada batas kota (Sarageni, Mertalulut, Singanegara, Jayataka, Miji Pinilih, dan
sebagainya). Penampatan itu per golongan atau kelompok. Maka terciptalah nama-nama kampung
didasarkan pada nama kelompok Abdi Dalem (Kalangan, Jagalan, Metalulutan, Saragenen, Gandekan Kiwa,
Baluwarti, dan lain-lain). Hal ini untuk memudahkan mengingatnya.
Setelah pengaturan tempat
tinggal para Sentana, Abdi dan Kawula Dalem selesai pengaturannya, termasuk para pejabat Pemerintah
Kompeni Hindia Belanda, orang-orang Asing, para petugas Misionaris dan Zendeng, maka bersamaan
dengan itu mulai dibangun pasar-pasar, seperti Pasar Harjanagara (Pasar Besar), Pasar Kliwon, Pasar
Legi, Pasar Pahing (Pasar Nangka), Pasar Wage (Pasar Jongke), Pasar Nglorengan/Slompretan/Klewer,
dan lain-lain.
Demikianlah kota cepat
berkembang, pada masa Paku Buwana IV kota Sala sudah hampir sama dengan kota Sala jaman Paku Buwana
X. Lebih-lebih setelah dibangun jembatan Jurug dan Jembatan Bacem, banyak pedagang dari luar kota
berdatangan berdagang di kota Sala.
Hal lain yang perlu
ditambahkan adalah adanya tradisi pemberian nama tempat dan nama orang dalam masyarakat Jawa.
Nama-nama tempat/kampung dan nama orang di Surakarta juga dipengaruhi tradisi ini.
Tradisi pemberian nama pada
setiap masyarakat bangsa tidak mesti sama. Hal ini disebabkan adanya perbedaan budayanya. Orang
Indian menggunakan tradisi Totemisme, orang Cina menggunakan tradisi She, dan sebagainya. Pada orang
Jawa, tradisi pemberian nama agak unik. Apabila kata bin atau binti menunjukkan tradisi Islam bila
bin atau ibn menunjukkan keturunan laki-laki, maka binti adalah untuk anak perempuan. Di beberapa
suku bangsa sering menggunakan nama marga untuk menunjukkan keluarga besar, Klan atau sukunya.
Misalnya marga Harahap, Sihombing, Nainggolan dan sebagainya dan biasanya digunakan oleh beberapa
suku bangsa di Sumatera Barat dan Tengah. Fungsi marga ini sama seperti She dalam tradisi Cina
Pada tradisi pemberian nama
orang Jawa sepanjang sejarahnya hampir selalu mengalami perkembangan akibat budaya dan monesisnya
dari jamannya.
Pada masa Jawa Hindu, yaitu
masa antara abad ke 5 – 11 pengaruh Hinduisme masih sangat kuat. Maka nama-nama yang dipakai
bernafaskan keagamaan Hindu. Bahkan ada unsur awatara ( penitisan atau inkarnasi ) masuk ke dalam
pemberian nama tersebut. Hingga hal ini memudahkan bagi kita untuk menetapkan yang bersangkutan itu
menganut agama apa. Namun demikian, akibat kurangnya data sejarah, kita sangat sulit untuk dapat
menemukan nama masa kanak-kanak ( nama pribadi ). Nama-nama yang kita peroleh dari sumber sejarah
yang kita temukan berupa prasasti, merupakan nama ketika berkuasa ( period name ) atau mungkin
bahkan nama Prabasuyasa atau percandian ( temple name ). Hanya pada masa awal Mataram Hindu,
nama-nama yang kita temukan kelihatannya seperti nama pribadi, bukan nama jabatan ( sebagai penguasa
) misalnya : Purnawarman, Sanjaya, Sanaha, Pancapana, Warak, Garung, Pikatan dan sebagainya yang
semuanya berciri nama pribadi.
Selanjutnya kita temukan
nama Rakai Watukura Dyah Balitung Dharmodaya Mahasambu atau Rakai Watukura Ishwara Kesawasawatungga
( Samarattungga ) yang bernafaskan Syiwaisme adalah nama untuk raja Balitung dari Kerajaan mataram
Hindu. Sesudah masa Balitung ini, maka nama raja-raja biasanya menggunakan nama ketika memerintah (
period name ) serta nama percandiannya ( temple name ) Misalnya : Dakshatama Bahubraja Pratipakshaya
untuk raja Daksa, juga bernafaskan Syiwaisme. Pangganti Raja Daksa ialah Rakai Layang Dyah Tulodong
Shri Sajjanasanmaturaga Tunggadewa untuk raja Tulodong, dan Rakai Pangkaya Dyah Wawa Shri
Wijayalokanamatungga untuk raja Wawa. Nama-nama tersebut merupakan nama percandian ( temple name )
Selanjutnya pada masa Jawa
Timur, terutama pada masa Medang Kahuripan dan Kediri mulai terjadi sedikit perubahan. Pada masa ini
sifat Hinduisme sudah agak berkurang dan mengarah ke Hindu Jawa. Sifat kewisnuan nampak kuat
disamping unsur Asli mulai muncul. Latar belakang
pemakaian nama Dewa (Iswara, Vajra, Ishana, Dewa, Lokeswara, Uttunggadewa, dan sebagainya)
menunjukkan masih kuatnya pengaruh ajaran inkarnasi dalam Hinduisme. Peristiwa demikian ini terjadi
lagi pada masa Islam yang dengan menggunakan nama-nama seprti Muhammad, Fatahillah, Abdul Mufakir,
Yusuf dan sebagainya menunjukkan nafas keislaman.
Masa Medang Kahuripan
maupun Kediri masih nampak adanya pengaruh inkarnasi tersebut. Ternyata di dalam gelar berikut: Sri
Dharmawangsateguh Anantawikramatunggadewa untuk raja Dharmawangsa Teguh, Rakai Halu Shri Lokeswara
Dharmawangsa Airlangga Anantawikramatunggadewa untuk raja Airlangga. Kemudian muncul sebutan
digdaya, bhuwana, bumi, menunjukkan gaya kejayaan. Misalnya; Shri Maharaja Rake Sirikan, Shri
Kameswara Sakalabhuwana Mustikarana Sarwaniwaryawirya Parakrama Didayutunggadewa untuk Raja
Kameswara II, Sang Mahapanji Jayabaya Sri Dharmeswara Madusudanawatara-ninditha Suhersinga untuk
Raja Jayabaya, dan sebagainya. Disamping itu muncul nama Juru Dyah dan Prasanta (Jodeh dan Santa);
Sabda Palon dan Naja Genggong; Si Dudul dan Si Dulet; Dora dan Sembada; Duduga dan Prayoga adalah
nama-nama Abdi kinasih raja atau pangeran yang menjadi tokoh utama dalam suatu cerita. Juga
nama-nama berlatar belakang Totemisme, ialah suatu kepercayaan asli dengan menggunakan nama-nama
hewan atau keadaan alam, seperti: Lembu Amilihur, Lembu Amisani, Lembu ampal, Lembu Tal, Gajah Mada,
Gajah Enggon, Kebo Ijo Kebo Nabrang, Kebo Tengah, Kudamerta, Kuda Waneng Pati, Kuda Lalayean,
Candrakirana, Sekartaji, Hayam Wuruk, Kencana Wungu, Damarwulan, Minakjingga, dan lain-lain yang
berkembang pada masa Kediri, Singasari dan Majapahit. Bersamaan dengan itu munculpula nama-nama
Jawa: Tohjaya, Kertanagara, Ranggalawe, Sora, Nambi, Semi, Kuti, Jayanegara dan lain-lain.
Perkembangan selanjutnya
mengarah kepada pola Kejawaan dan Jawa. Nama pribadi atau nama kanak-kanak mulai kita kenal. Mungkin
nama kanak-kanak ini sejak semula memang sudah ada, hanya kita yang kekurangan data. Akhirnya yang
sudah ketahui sekarang adalah kanak-kanak dan nama keluarga, nama panggilan, nama paraban, nama
jabatan, serta nama babtis.
Ada beberapa dasar tradisi
pemberian nama itu.
1.
Dasar situasi dan kondisi lingkungan
sekitar: Sela, Wanasaba, Wonogiri, Semarang, Karangbolong, Dalemreja, Sala, Jurang Jero, Ledhok,
Tegal Kuniran dan sebagainya.
2.
Dasar harapan masa depan yang gemilang:
Wnakerta, Kartasura, Surakarta, Ngayogyakarta, Umbulreja, Sala, Jurong Jero, Ledhok, Tegal Kuniran
dan sebagainya.
3.
Dasar penguasa atau orang terhormat di
tempat itu: Singasaren, Jayanegaran, Danukusuman, Pringgalayan, Purwapuran, Purwaprajan,
Cakranegaran, Wiragunan, Purwadiningrat, Yudanegaran, Reksoniten dan sebagainya.
4.
Dasar kelompok Abdi Dalem di tempat itu:
Gandekan Kiwa/Tengen, Mertolulutan, Singanegaran, Miji Pinilihan, Saragenen, Jayatakan, Brajanalan,
Kabangan, Jagalan, Gajahan, Kepunton, Tamtaman, dan sebagainya.
Nama dan toponimi
berhubungan erat. Dasar inilah yang digunakan Purbacaraka untuk menentukan letak Bekasi atas dasar
Prasasti Tugu.
Selanjutnya tentang ada
beberapa pengertian: “Toponimy is the study of toponimis” (Random House Dictionary, 1968: 1386).
M.J. Koenens (1938 – 1038) mengatakan bahwa toponimi adalah pengetahuan tentang nama-nama
(plastsnamen kunde). Arti dari kedua pendapat tersebut antara lain ialah ilmu yang bergerak dalam
pengetahuan tentangpenelitian nama-nama tempat. Dari kedua pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa
dengan pengetahuan toponimi kita dapat menentukan atau menunjukkan nama-nama atas tempat-tempat
tertentu dan akhirnya dapat kita tentukan peta geografisnya. Dengan toponimi pula kita dapat
menentukan pola-pola berpikir dan merasa diri penduduk di suatu tempat atau lokal atau daerah
tertentu pula pada suatu waktu. Bahkan nama suatu tempat, desa atau kota saja dibuatkan suatu cerita
untuk mengesahkan tentang nama tempat, desa atau kota tersebut. Beberapa contoh dapat untuk
menunjukkan pola berpikir masyarakat suatu daerah.
1.
Nama Banyuwangi, terjadi dari suatu
cerita seorang bangsawan yang membunuh istrinya yang tidak bersalah. Sebelum meninggal istrinya,
berkata “Apabila air sungai ini berbau wangi (harum) pertanda bahwa saya tidak bersalahi.
Demikianlah benar-benar air sungai itu berbau harum, dan bangsawan itu berteriak ‘Banyuwangi’
yang akhirnya menjadi nama kota di Jawa Timur itu.
2.
Semarang, terjadi karena di situ dahulu
menjadi pusat penimbunan buah asam (asem) dan arang (Asem) dan arang menjadi Asemarang-Semarang).
3.
Boyolali berhubungan dengan cerita Kyai
Ageng Pandanarang (Sunan Tembayat) dalam perjalanannya dari Semarang akan berzirah ke makam di
Jabalkat (Tembayat). Dalam cerita tersebut muncul nama-nama: Gombel, Srondol, Ungaran, Salatiga,
Boyolali, Teras, Majasanga, Banyudana, dan sebagainya.
4.
Begitu pula tentang nama-nama Tangkuban
Perahu, Tegal Arum, Weleri, Kali Wungu, Dieng (Dihyang), Magelang, Banyumas, dan sebagainya.
Sehubungan dengan uraian
ini, kata Surakarta adalah nama sebuah kota di daerah Jawa Tengah Selatan yang dijadikan pusat
kerajaan Mataram akhir dan Kasunanan Surakarta. Kata Surakarta sendiri mempunyai beberapa nama:
1.
Bagi seorang seniman, nama kata ini
disebutkan Kota Bengawan seperti halnya kota Gudeg untuk Yogyakarta; Kota Kembang untuk Bandung,
Kota Perjuangan untuk Surabaya dan lain-lain.
2.
Masyarakat pedesaan menyebutnya Nagari,
sebab mengingat sejarahnya, kota ini dahulu menjadi pusat pemerintahan (Kutha Negara Kerajaan, pusat
kedudukan Raja.
3.
Secara tradisional, kota ini disebut
Kutha Sala, di mana Kutha berarti tempat yang dikelilingi tembok tinggi (kutha negara). Disamping
itu, penyebutan tersebut menunjukkan kesederhanaan berpikir, sikap dan pandangan hidup orang Jawa.
Ucapan Wong Sala lebih dikenal daripada Wong Surakarta, seperti halnya Wong Majapahit, Wong
Blambangan, dan sebagainya.
4.
Para wisatawan lebih senang menyebutnya
Kota Solo, seperti lagu ciptaan Gesang, yaitu Bengawan Solo, karena dinilai sebagai pusat budaya
Jawa dengan sifat khas budaya kejawen.
5.
Secara administratif pemerintah (resmi)
dan dalam sumber-sumber resmi tertulis, disebut kota Surakarta atau Surakarta Hadiningrat.
Demikian uniknya Wong Sala
atau Wong Jawa dalam soal nama.Pembahasan terhadap tradisi pemberian nama baik orang maupun tempat
akan mengangkat usaha menemukan gejala-gejala masa lampau yang berproses menjadi hasil karya dalam
bidang budaya masyarakat, terutama masyarakat Jawa. Maka dalam pembahasan tradisi pemberian nama ini
akan menyangkut pula masalah: pertama, kapan Kutha Sala tumbuh dan bagaimana latar belakang
sejarahnya yang kemudian berkembang menjadi Pusat Kebudayaan Jawa dan Kerajaaan Surakarta
Hadiningrat; kedua, latar belakang budaya yang manakah yang melahirkan nama-nama perkampungan di
kota Surakarta berbeda dengan nama-nama perkampungan di kota-kota lain kerajaan Kejawen
(Vorstenladen).