|
|
Karaton
sebagai sumber budaya Jawa memiliki hasil seni sastra yang tersimpan di sasana pustaka. Sasana
pustaka merupakan perpustakaan karaton yang menyimpan sebagian besar hasil seni sastra karaton.
Perpustakaan ini didirikan oleh Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Paku Buwono X pada tanggal 20
Januari 1920. Letak perpustakaan ini ada disebelah selatan Sasanasewaka, berdekatan dengan sasana
Handrawina yang sekarang sedang dibangun. Didalamnya tersimpan buku hasil seni sastra, buku, majalah,
dan bahan terbitan antara lain : |
Naskah manuskrip (tulisan
tangan atau carik) sebanyak 726 naskah yang sekarang sudah tersimpan dalam bentuk mikro film
b.
Buku cetak huruf Jawa
sebanyak 2000 buku.
c.
Buku yang berbahasa Belanda
sebanyak 1000 buku
d.
Buku-buku terbitan Balai
Pustaka sebanyak 1100 buku
e.
Buku-buku dari berbagai
instansi sebanyak 600 buku
f.
Kurang lebih 200 majalah dan
koran lama (sebelum kemerdekaan Republik Indonesia)
Khusus
mengenai naskah manuskrip sebanyak 726 buah seluruhnya sudah disusun dalam bentuk katalog oleh dua
orang. Kedua orang itu yaitu (1) Nikolous Girandet dari Universitas Heidelberg Jerman dan (2) Nancy
K. Florida dari Ford Foundation Amerika Serikat. Dari kedua katalog itu dapat diperoleh gambaran
ringkas mengenai isi naskah. Berdasarkan isinya dapat dikelompokkan sebagai berikut:
|
a Babad atau
sejarah. b.Tatacara dan upacara c.Keris |
d.Pedalangan dan wayang e Ilmu
bahasa/paramasastra f.Mistik Jawa |
g. Perbintangan atau astronomi h.Mistik
dan tari i. Islam
dalam sejarah perkembangannya |
Berdasarkan
jumlah dan koleksi buku perpustakaan sasana pustaka termasuk perpustakaan lama yang besar.
Perpustakaan sebagai sumber inspirasi cukup menyimpan bahan yang melimpah. Bahan yang melimpah ini
untuk pemakaiannya ada kendala yaitu kendala mengenai bahasa dan tulisan. Sebagian bahasanya
tertulis dalam huruf Jawa dan tentunya juga terungkap dalam bahasa.
Untuk
mengatasi kendala itu perlu ditempuh adanya usaha transkripsi dan terjemahan. Dengan usaha ini
fungsi Sasana Pustaka sebagai sumber informasi dan sumber inspirasi dapat diwujudkan. Demi
kelancaraan usaha ini perlu juga adanya peningkatan pengelolaan. Sebab perpustakaan dengan banyak
buku harus seimbang dengan jumlah pengelolanya.
Perkembangan
satra Jawa pada abad ke-18 dan ke-19 sering disebut sebagai “renaisans sastra klasik” (maksudnya:
sastra Jawa Kuno). Sebutan “renaisans” dalam penelitian-penelitian mutahir ditolak, jika yang
dimaksudkan dengan “renaisans” itu adalah munculnya kegairahan dan kegiatan baru untuk mengkaji
sastra Jawa Kuno. Yang terjadi adalah penggubahan karya-karya sastra Jawa Kuno yang bermantra
kakawin menjadi karya-karya sastra Jawa yang bermantra macapat (tembang macapat)
Hal
ini menjadi jelas dalam kasus Serat Wiwaha Jarwa (Serat Mintaraga), gubahan Paku Buwana III
(1749-1788). Paku Buwana III tidak langsung bekerja degan teks Kawi (Jawa Kuno), tetapi mengubah
teks prosa yang sudah menjadi Serat Wiwaha Jarwa yang bertempat macapat.
Sumber-sumber
sastra yang dimanfaatkan di keraton Surakarta itu tampaknya berasal dari kegiatan sastra pada zaman
Kartasura, khususnya kegiatan sastra yang justru dilakukan di luar karaton, yakni
padepokan-padepokan di wilayah Merapi-Merbabu.
Khasanah
sastra zaman Kartasura ini kemudian diwarisi oleh para pujangga dan literati Keraton Surakarta dan
Keraton Yogyakarta saat terjadinya pembagian kerajaan itu.
Abad
Baru
Serat
Wiwaha Jarwa gubahan Paku Buwono III mulai di tulis pada tahun 1704 Jawa (1778 Masehi) atau pada
awal “abad baru” menurut kalender Jawa.
Ada
kepercayaan bahwa pada setiap abad baru akan muncul. Jika demikian dapatlah ditafsirkan bahwa
pengubaha Serat Wiwaha Jarwa merupakan imbangan terhadap penciptaan Serat Suryaraja, yang ditulis
oleh Putra Mahkota (kelak: Hamengku Buwono II) di Keraton Yogyakarta pada tahun 1700 Jawa (1774
masehi). Disitu tampak adanya kompetisi legitimasi Surakarta ataukah Yogyakarta yang merupakan
“Keraton baru” yang sah menggantikan keraton kartasura.
Dengan
menggubah serat wiwaha jarwa, paku buwana III menampilkan diri sebagai “raja” sekaligus
“pendeta” atau “raja” sekaligus “pujangga”. Tugas seorang pujangga adalah menulis dalam
rangka legitimasi kedudukan sang raja.
Srat
wiwaha jarwa memuat kisah Arjuna yang bertapa berhasil menaklukan Niwatakawaca dan memperoleh pahala
dari kahyangan. Disini legitimasi kerajaan dihubungkan dengan Arjuna, yang dianggap sebagai leluhur
raja-raja Jawa.
Serat
Suryaraja mengambil bentuk babad yang memuat kisah Keraton Yogyakarta dengan menyamarkan
tokoh-tokohnya menjadi tokoh-tokoh mistis. Didalamnya dapat dilacak bagaimana Keraton Yogyakarta
menghadapi masalah-masalah dalam menyongsong “abad baru”.
Putra
mahkota (kelak: Hamengku Buwono II) ini juga kiranya penulis Babad Mangkubumi, yang mengisahkan masa
pemerintahan Mangkubumi (Hamengku Buwono I) sesudah pembagian kerajaan pada tahun 1755.
Bagian
pertama yang merupakan bagian terbesar dari babad ini, selesai ditulis pada tahun 1773. Bagian kedua
ditambahkan sesudah wafatnya Sultan Mangkubumi dan putra mahkotanya, sangat keras mengritik.
Mangkunegoro, tidak mengacuhkan Paku Buwono III, dan melawan Paku Buwono IV.
Penulisan
babad yang penting juga di keraton Yogyakarta adalah penulisan Babad Keraton oleh Raden Tumenggung
Jayengrat pada tahun 1703 Jawa (1777 Masehi). Babad ini memuat kisah dari Adam sampai jatuhnya
keraton Kartasura. Semula babad ini berakhir dengan berdirinya
keraton Kartasura, kemudian dilanjutklan dengan jatuhnya keraton itu.
Melihat dari kisahnya, bisa dikatakan
Babad Keraton bersifat memandang ke belakang. Ini berbeda dengan serat Suryaraja yang bersifat
profetis dan memandang ke masa depan.
Yosodipuro
Beberapa waktu kemudian pada pergantian
abad ke-18-19 dilingkungan keraton Surakarta, tampil pujangga Raden Ngabehi Yosodipuro I
(1792-1803). Banyak karya sastra disebut-sebut sebagai gubahan atau tulisan Yosodipuro I. Namun,
penelitian Ricklefs akhir-akhir ini menyimpulkan bahwa sekurang-kurangnya ada enam karya harus
diragukan atau ditolak sebagai karya Yosodipuro I, yakni Tajusalatin, menak, Iskandar, Sewaka,
Arjunawiwaha jarwa, dan Cebolek.
Yosodipuro I inilah yang menggubah
kakawin-kakawin lama menjadi karya-karya bertembang macapat. Umpamanya: serat serat rama (dari
kakawin ramayana), serat Bharatayuda (dari kakawin Bharatayuddha), dan serat Arjuna sasrabahu (diperbaharui
oleh Yosodipuro II; dari Kakawin Arjunawijaya). Mengingat kasus serat wiwwaha jarwa gubahan Paku
buwono III, mungkin Yosodipuro I juga bekerja atas dasar terjemahan prosa yang telah ada, yang
dibuat pada jaman Kartasura. Selain itu Yosodipuro I juga menggubah serat Dewaruci.
Serat rama memuat kisah rama yang
bertempur melawan rahwana untuk memperoleh Sinta. Ajaran penting yang terdapat dalam serat rama
adalah ajaran rama kepada wibisana tentang sikap dan perilaku seorang raja dalam memerintah rakyat.
Ajaran itu dikenal dengan Asthabrata, delapan sikap dan perilaku seorang raja sesuai dengan watak
dan perilaku delapan dewa.
Ajaran Asthabrata banyak dikaji,
dikutip, dan digubah kembali, sehingga menghasilkan banyak versi, baik dalam bentuk tembang maupun
prosa. Dalam pentas wayang kulit, ajaran ini juga dituturkan dalam berbagai konteks cerita, antara
lain dalam lakon Makutharama.
Serat Bratayuda memuat kisah
pertempuran Pandawa Korawa yang memperebutkan Kerajaan Hastina. Secara alegoris kisah ini
membayangkan sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa. Suksesi kerap kali melibatkan perang saudara. Dalam
upacara bersih desa dan upacara nyadran (mengirim doa untuk para leluhur dan mereka yang sudah
meninggal) kerap kali dipentaskan pertunjukan wayang kulit dengan lakon Bratayuda. Pembersihan Bumi
dan penyucian dosa bagi mereka yang telah meninggal dikaitkan dengan gugurnya para pahlawan
Bratayuda.
Serat Arjunasasrabahu memuat kisah
kelahiran Rahwana dan saudara-saudaranya, serta pertempuran Rahwana melawan Arjunasasrabahu. Berkat
salah paham atas teks Jawa kuna, kisah pertemuan Wisrawa-sukesi menimbulkan ngelemu sastra jendra,
ilmu tentang hakikat terjadinya manusia yang dianggap rahasia.
Serat Dewaruci memuat kisah Bima yang
atas perintah Drona mencari air suci (tirta perwira sari) dan akhirnya berjumpa dengan Dewaruci.
Dalam wejangan Dewaruci kepada Bima termuat ajarang tentang hakikat diri manusia. Dalam pentaswayang
kulit, Lakon Dewaruci kerap kali dianggap berpasnagan dengan lakon Mintaraga.
Lakon Dewarucci menampilkan pencarian
manusia sampai menemukan dirinya yang sejati. Penemuan diri yang sejati ini merupakan modal untuk
melaksanakan tugas ditengah masyarakat. Sedangkan lakon Mintaraga menampilkan usaha manusia untuk
mendisiplinkan diri sehingga sanggup melaksanakan tugas membina kesejahteraan dunia (mamayu hayuning
buwana).
“Babad
Giyanti”
Yosodipuro I juga menulis babad yang
penting, yakni Babad Giyanti. Babad ini tidak mencantumkan tanggal penulisannya, tetapi diperkirakan
paling lambat sekitar 1803 babad itu telah selesai ditulis.
Yang menarik perhatian, dalam babad ini
tampak Yosodipuro I mengagumi Sultan Mangkubumi dan menjadikannya tokoh utama. Ini tentu sesuatu
yang istimewa karena Yosodipuro adalah pujangga keroton Surakarta, sementara Sultan Mangkubumi
adalah raja Keraton Yogyakarta.
Perhatian terhadap babad di lingkungan
Keraton Surakarta tampak dari munculnya babad pakepung dan babad tanah jawi. Babad pakepung
mengisahkan krisis tahun 1790 di Surakarta. Babad ini
tampaknya ditulis oleh Raden Ngabehi Yosodipuro II.
Babad Tanah Jawi mulai disusun pada
pemerintahan Paku Buwono IV (1788-1820). Penyusunan babad ini mungkin berhubungan dengan usaha Paku
Buwono IV untuk mengkukuhkan kedudukan dan kekuasaan sebagai raja.
Paku Buwono IV menuangkan ajarannya
untuk anak-cucu, kerabat dan abdinya dalam Serat Wulangreh. Paku Buwono IV memang banyak menulis
serat (ajaran), yang dapat ditafsirkan sebagai pedoman dan sarana kontrol perilaku di lingkunan
istana.
“Serat
Centhini”
puncak dari perkembangan sastra Jawa
ini mungkin berlangsung sekitar tahun 1815, saat putra mahkota (kelak: Paku Buwono V, memerintah
1820-1823) bersama sebuah tim redaksi menyusun Serat Centhini. Kitab ini biasa disebut
“ensiklopedi Jawa”. Kisah yang merangkai beraneka ragam ilmu itu ialah sebuah kisah perjalanan.
Perjalanan seseorang yang mengembara mencari ilmu diselutuh pelosok tanah Jawa ini, dilaporkan dalam
kisah perjalanan Bujangga Manik, yang termuak dalam sebuah naskah Sunda dari akhir abad XV. Kisah
perjalanan yang menjadi ciri genre sastra jenis ini, disebut juga santri Lelana.
Banyak
serat ( kitab ) yang diserab kedalam Serat Centhini dan
dirangkaikan sebagai ajaran yang diperoleh para santri lelana di berbagai tempat pengembaraan mereka.
Kisah perjalanan ini juga memberi kesempatan memasukkan legenda, cerita tentang tempat-tempat dan
peninggalan purbakala, lukisan alam, uraian berbagai upacara dan seni pertunjukan dan sebagainya.
Dari
hal ihwal yang demikian itu dapat ditafsirkan bahwa dalam serat centhini hendak dikumpulkan berbagai
kitab dan berbagi situasi tanah Jawa, seakan-akan ada kekhawatiran bahwa semuanya itu lenyap
berhadapan dengan “ dunia baru “ dengan arus barat yang makin kuat.